Monday, 5 May 2014

Mencari Jawaban

Mencari jawaban. Sampai saat ini belum bisa bertemu orang yang bisa membantu menjelaskan kepadaku, mengenai campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia. Ada sejuta pertanyaan yang muncul. Mulai dari menciptakan manusia, agama dan dunia. Mengapa manusia diciptakan berbeda? Mengapa Tuhan menyediakan banyak agama. Mengapa manusia dikotakan pada agama?. 
Mengapa Tuhan mempertemukan kita dengan cinta yang tidak mungkin dimiliki? . Mengapa cinta harus dikalahkan oleh agama?. Mengapa kesempatan bahagia harus hilang oleh perbedaan agama?. 
Saya sendiri tidak tahu apakah saya cinta dengan pasangan saya yang terakhir ini. Tapi begitu kami duduk berdua, dan berbicara diselingi airmata, bahwa ini tidak mungkin, adalah sesuatu yang menghancurka hati. Bagaikan bocah 5 tahun yang tengah asik bermain dengan mainan kesayangannya, lalu tiba tiba saja mainan itu direnggut oleh orang lain. Menangis meraun raung. Mungkin kamu dulu dimasa kecil pernah merasakan hal yang sama.
Tapi tidaklah pas rasanya menganalogikan pasangan dengan mainan hehehe.
Tapi setidaknya itu yang bisa saya sampaikan untuk menggambarkan perasaan saat itu.
eh.. sebentar, ini pukul 10.04 pm tapi tiba tiba ada ayam berkokok sayup sayup terdengar di kejauhan.
Malam ini saya di kamar, dengan jendela terbuka, angin malam terasa begitu menyejukan. Paling tidak, bisa membantu mengeringkan luka yang menganga. 
Kembali ke bahasan awal, mengenai cinta dan agama.
Singkat kata kami harus berpisah.Kata menghibur bertubi tubi datang. Bagi saya seolah terdengar seperti pembenaran, atau bahkan terdengar hanya sekedar untuk membesarkan hati yang ciut.
Tapi apapun itu, terimakasih untuk  mereka, kamu dan kamu.
Lalu siapa yang bisa menjawab jutaan pertanyaan saya?. Haruskah malam ini saya tidur dengan jutaan pertanyaan dibenak? Dan bangun dengan pertanyaan yang sama masih bergelayut?.
Entah.

Aku bukan politisi, pasti menepati janji.

Dunia politik bolakbalik
Akar pertemanan hanya kepentingan
Bukan pula untuk rakyat
Tapi hanya segelintir manusia haus darah
Birahi politik keji kejam
Semua atas nama rakyat
Coba kau tanya rakyat yang mana
Buntut politik sampai ke ruang publik terkecil
Kau taulah dimana
Berdiri dengan menginjakan kaki di kepala orang lain
Tangan berlipat didada, sementara pantat di wajah orang lain
Dunia politik bolakbalik
Yang kawan jadi lawan
Yang dilawan tiba tiba menjadi sedarah
Birahi politik keji kejam
Dimeja makan kau tertawa
Bukan main bahagia
Mentertawakan rakyat bodoh bersimbah darah
Rakyat kecil sebagai alas kakimu
Dunia politik  mewah megah
Coba kau tanya dirimu, mana yang kau lakukan untuk orang yang kau wakili?
Coba  kau tanya dirimu, mana yang kau lakukan untuk orang yang kau pimpin?
Coba kau tanya dirimu, mana yang kau berikan untuk orang yang memilihmu?
Kalau kau punya satu atau dua jawabnya, aku berdiri paling depan mengusungmu.
Janji.
Aku bukan politisi, pasti menepati janji.


 

Monolog

Pernah merasakan tidak tenang, gusar, bingung, linglung dan tak memiliki pegangan?. Mungkin semua orang pernah merasakan hal tersebut. Mungkin bagi mereka yang kuat iman, akan mengalihkannya dengan berdoa, berkomunikasi dengan Tuhannya masing masing. Mungkin bagi yang tak seberapa kuat iman, dalam arti kata mencari keberadaan Tuhan, menjadi bingung dalam kesendirian.
Apapun itu bebaslah. Saya berada dititik yang tidak jelas, bingung dan gusar. Apa sebenarnya yang dituliskan untuk hidup saya. Apa yang anda lihat dalam hidup orang lain?. Mungkin tanpa sadar terucap, "wah enak sekali menjadi dia". Atau. " ya iyalah hidupnya begitu". Coba jujur dulu pada diri sendiri. Pernah mengalami hal yang demikian?.
Jalannya adalah mencari pembimbing hidup. Apapun itu, entah agama, entah manusia. Idealnya sih agama. Tapi sangat gampang memang mengatakan yang ideal-ideal, yang sulit adalah mengimplentasikan yang ideal-ideal tersebut. Coba sekali lagi jujur pada diri anda. Seberapa banyak anda mengimplentasikan yang ideal-ideal?. Entah itu menurut norma sosial atau agama.
Bingung? Sama. Tenang saja, anda tidak sendiri. 
Lalu bagaimana?
Tulisan ini terhenti disini, anda lanjutkan sendiri. Karena saya akan masuk ke dunia nyata dulu.

Yang bisa saya bilang, menulis membantu mencairkan semua beban yang tadinya padat. Cair menjadi mudah mengalir, entah mengalir keluar, atau mengalir masuk ke dalam pembuluh darah. Kalau keluar, mungkin anda akan merasa ringan. Lalu bagaimana kalau kedalam?. Akan menjadi racun yang masuk ke pembuluh darah.

 

Saturday, 3 May 2014

yang tak pernah habis dibahas

Aku terus s berjalan tanpa henti mencari cinta. Kalimat ini mungkin pernah terlontar di setiap benak manusia. Hakekat cinta itu apa, pada setiap orang pasti berbeda. 
Aku belajar mencintai. Segala macam cinta. Cinta akar bahagia dan duka.
Cintaku tak pernah memiliki. Cinta terlarang, 3 ikatan yang membuatku luka.
Tapi dari ketiganya, aku belajar Mengerti, sakit dan bahagianya cinta.
Cinta yang sesungguhnya.
Jika dulu aku hanya mendengar pujangga berkata " cinta tak harus memiliki" sebagai bahasa yang klise.
Tapi kini aku Mengerti dengan sebenarnya. Bahwa memang ada cinta yang demikian.
Cinta yang melambungkan ku ke langit ketujuh. Ke tempat terindah. Ke tempat dimana waktu seolah berhenti. Ketempat dimana malam dan siang tak berarti. Ketempat dimana lapar seketika tak terasa. Ketempat dimana sayatan bagai kecupan.
Ketempat dimana hanya ada aku dan dia.
Itulah tempat tertinggi dalam mahacinta.
Ketempat dimana aku tak mengenal luka dan airmata.
Tapi cinta juga yang membenamkanku ke tempat terdalam, tergelap, terkelam. Tempat dimana waktu seolah lama berganti. Tempat dimana airmata mengalir tanpa suara. Tempat yang menyesakkan dada,dimana aku hanya ingin kematian. Tempat dimana aku kehilangan kepercayaan pada manusia. Tempat dimana aku mempertanyakan kasih sayang Tuhan. Tempat yang membuatku menutup rapat seluruh pintu cahaya.
Tapi aku juga tak lupa, cinta mengajarku untuk bangkit lagi. Cinta mengajarku mengenal ikhlas. Cinta memberi tahu aku untuk terus bernafas meski sakit meski luka.
Tapi cinta..aku membunuh cinta, ah cinta. 
Cinta itu bagai malaikat dan iblis.
Keduanya akan mendekati kita.
Aku tak tahu harus bagaimana.
Jauh Jauh dulu ya cintaku. 

Saturday, 8 February 2014

Prolog



Meledak... Rasanya meledak. Ingin meledak. Itu yang kurasakan. Melihat air mata berderai dari mata indah itu. Mata yang sering kuciumi kala lelah terlelap disamping nya.
Malam ini serasa seluruh beban bumi ada di dadaku. Aku melangkah ke rumah dengan berat hati. Sambil melihatnya menghilang dibalik dinding itu.

Tuesday, 21 January 2014

Surat dari pengungsi Sinabung untuk Bu Ani Yudhoyono


Hari ini lumayan lelah. Setibanya di rumah, saya langsung membuka laptop, sambil memantau informasi yang beredar di sejumlah media. Kebetulan nemulah ini surat terbuka...Baca sebentar yuk...
 
 20/01/2014 07:54:39
Surat Terbuka

Instagram untuk Ani Yudhoyono dari Vita Sinaga-Hutagalung Korban Sinabung

Foto: tribunnews
Yth. Ibu Ani Yudhoyono, nama sahaya Vita Sinaga-Hutagalung, satu dari puluhan ribu korban letusan Gunung Sinabung yang letaknya di Sumatera, bukan di Jogjakarta atau Magelang. Sahaya ingin sekali menuliskan dan melukiskan Sinabung lewat jepreten tustel seperti Ibu Ani lewat telegram, eh, Instagram. Atau melukiskan keindahan derita Sinabung dengan mengabadikan jepretan kamera dan menampilkan di Instagram. Namun, apa daya. Kami para pengungsi tak memiliki apa-apa lagi.
Ibu Ani yang cantik jelita bulat mukanya, surat ini sahaya tuliskan menjelang kedatangan Bapak Susilo Bambang Yudhonono - suami dan presiden Ibu Ani ke Tanah Karo. Sahaya dengar dan yakin Ibu Ani sangat berperan menentukan kebijakan negara Indonesia, sama halnya para koruptor yang selalu disetujui dan didukung oleh para isteri mereka. Sahaya dengar dari wartawan yang selalu datang ke mari selama enam bulan ini, bahwa Ibu Ani aktif sekali di dunia maya ya Ibu Ani. Kata para wartawan Ibu Ani hobby sekali main Instagram, Twitter dan Facebook.

Ibu Ani yang cantik bulat menarik hati, katanya Ibu bahkan senang sekali mengabadikan apapun. Bahkan bisa juga Ibu Ani ribet mengurus Instagram dan main tustel. Itu adalah aktivitas sangat positif sebagai Ibu Negara. Aktivitas Ibu Ani bermanfaat untuk bangsa dan negara Indonesia. Di situlah kedekatan rakyat sampah jelata dengan para pejabat dan istri pejabat tinggi yang menjulang ke langit ketujuh dapat terjembatani.

Ibu Ani, dengan aktivitas Ibu Ani di Istagram, maka kami sebagai korban Gunung Berapi Sinabung telah tertolong. Dengan melihat kebahagiaan Ibu Ani, Anissa Pohan - yang menjuluki Ibu Ani sebagai mertua terbaik di dunia dan akhirat, cucu-cucu yang cantik dan gagah menarik, Ibas yang berenang dengan baju mau menyelam padahal di kolam renang dangkal, lalu ke pantai dengan memakai batik resmi, itu pertunjukan yang mampu memberikan kebahagiaan buat kami.

Ibu Ani, kami para pengungsi tak membutuhkan apapun selain gambar-gambar di Instagram. Kami tak butuh tanah pertanian yang telah rusak untuk direhabilitasi. Kami tak butuh makanan. Kami tak butuh obat-obatan. Kami tak butuh selimut. Kami tak butuh pembalut wanita. Kami tak butuh pakaian. Kami tak butuh tempat tinggal karena tempat tinggal kami ya di 59 tempat pengungsian selama enam bulan ini. Kami pun tak butuh apa-apa selain melihat dan menonton foto-foto kebahagiaan Ibu Ani sekeluarga melalui Instagram. Instagram Ibu Ani adalah kebahagiaan kami.

Ibu Ani yang cantik jelita dengan muka bulat sempurna. Dari muka Ibu kami tahu Ibu adalah orang paling baik di Bumi, Langit dan Surga nanti. Untuk itu, kami sebagai warga negara merasa puas dan senang berbagi melihat kebahagiaan keluarga Ibu Ani. Sementara di pengungsian ini, kami selama enam bulan, merasakan kurang makan, kurang tidur, kurang nyaman dan kurang kebahagiaan - namun sekali lagi, melihat kebahagiaan keluarga Presiden RI, kami sudah kenyang dan berbahagia. Sudah selayaknya sahaya dan rakyat melayani pejabat dan orang besar serta penguasa. Maka, biarkanlah kami di Tanah Karo dan Sinabung menikmati pengorbanan sebagai hamba kepada penguasa.

Ibu Ani yang terhormat, bolehlah sahaya pesankan kepada Ibu agar memberi tahu Bapak Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhyono, suami Ibu yang besar badannya itu, untuk (1) jangan menetapkan bencana Sinabung sebagai bencana nasional, agar kami tak mendapatkan bantuan berskala nasional, (2) jangan kami diberi bantuan apapun karena kami bangsa Indonesia dan Batak akan pergi ke saudara-saudara kami untuk mencari kehidupan - itu yang banyak diperhatikan bahwa bangsa Batak memiliki kekuatan sendiri, (3) biarkan kami tetap di pengungsiaan selama-lamanya, (4) jangan Ibu Ani hentikan kegiatan main tustel, kamera standard professional seharga Rp 250 juta, untuk menampilkan foto-foto Ibu Ani, Annisa Pohan - anak koruptor bernama Aulia Pohan - dan juga cucu-cucu dan anak-anak tercinta, karena foto-foto Instagram Ibu Ani adalah kebahagiaan bagi kami semua: warga pengungsi yang tak memiliki apa-apa selain air mata.

Ibu Ani yang terhormat, demikian surat Instagram kami. Karena kami tak tahu Istagram itu apa maka mohon maaf yang sahaya tahu adalah telegram di kampung kami dulu. Sahaya pikir dengan menulis Instagram ini, yakni istagram tanpa foto karena tak memiliki tustel, maka pesan yang sahaya sampaikan rasanya sampai. Kami warga korban gunung berapi hanya membutuhkan gambar-gambar yang indah hasil jepretan Ibu Ani di Instagram. Kami di pengungisan sudah puas dan bahagia meskipun kami sakit, kurang makan, kurang pakain, tak memiliki tempat bekerja karena pertanian kami hancur, anak-anak mahasiswa kami sebanyak 25,000 terancam tak bisa bayar uang kuliah dan makan, namun itu semua tak penting. Yang penting kami menonton foto-foto Instagram Ibu Ani sekeluarga yang berbahagia. Itulah rentetan nestapa duka derita sengsara kami selama enam bulan letusan Gunung Sinabung paling dalam yang Ibu tak pernah pikirkan - sama dengan suamimu dan para menteri yang sibuk nyaleg lagi.

Salam bahagia ala saya Ibu Ani Yudhoyono yang cantik jelita bulat sempurna.

Penulis : Ninoy N Karundeng

*tulisan ini dimuat di kompasiana, namun sudah diremove berikut linknya: http://m.kompasiana.com/read/detail_comment/628903/2

Thursday, 24 October 2013

Cinta seharusnya tanpa mata? hanya rasa

Sayang. Tidak mudah untuk berpaling dari mu. I feel your pain I feel the same. Disepertiga malam ini aku merindukanmu. Maaf aku harus memilih cara seperti ini. Karena belajar untuk berhenti mencintaimu tidaklah mudah. Jika diperbolehkan untuk menghabiskan sisa hidupku bersama mu, maka itu tidaklah menjadi pilihan, tapi itulah satu satunya keputusan, bukan pilihan. Karena aku tidak akan menempatkan keputusan untuk hidup bersama mu menjadi pilihan. Itu adalah keputusan, bukan pilihan.
Memalingkan mata ku pada yang lain mungkin terlihat mudah bagimu. Tapi memaksa memalingkan hatiku darimu bagai menyayat luka dileher ku sendiri.
Bagai mencabut nyawaku perlahan. Sayang, jika aku memiliki kesempatan terlahir kembali, aku akan memilih untuk terlahir menjadi dia yang kelak bisa menyandingmu.
Menyandingmu tanpa harus menerima penolakan dari semua yang bernyawa.
Menyandingmu.
Sayang.. Sayang..
Dan sayang aku tidak bisa terlahir kembali.
 Sayang aku mati melihatmu terluka, disaat kau membayangkan bahwa aku tengah berbahagia dengan yang lain.
Pernahkah kalian tahu apa rasanya jika harus membunuh cinta pada yang tercinta? Padanya yang telah kau serahkan seluruh bahagia dan air mata?
Kita tehalang aturan hidup norma dan dosa.
Padahal cinta tak seharusnya berbatas dosa dan pahala, patut atau tidak serta elok atau tak elok.

Cinta harusnya tanpa mata, tanpa bentuk, tapi hidung, hanya rasa.
Seandainya cinta hanya sebatas rasa, maka malam ini dan setiap pagi kelak, wajahmulah hal pertama yang kulihat saat membuka mata.

Sunday, 23 June 2013

Lagi Lagi Pikiran Kosong

****
Ada lobang hitam itu rasanya didadaku. Mungkin ini kata orang yang namanya dendam. Kadang aku juga merasa iri dengan teman sebangku ku. Cerita tentang makan malam keluarga.  
Tentunya dengan ayah dan ibu. 


Ayah? Benda asing apa itu?


Mungkin aku punya, tapi tidak sama seperti Ayah yang mereka miliki. Seorang ayah dalam bayanganku adalah pahlawan bagi seorang anak laki laki dan cinta pertamanya anak perempuan. Mungkin. Mungkin.
Tapi dua duanya tidak ada dalam benak ini.
Ayah, aku tidak membencimu karena tak ada disaat saat yang seharusnya kau ada.
Aku juga tidak membencimu karena harus menjalani yang aku jalani sekarang, lantaran absen mu dimasa lalu.


Ayah, aku membersihkan pusara mu hari ini dengan bahagia, karena akhirnya menemukanmu.
Kesini ternyata pikiran kosong ini membawa ku.

Aku berjalan lagi menuju mobilku. Panas luar biasa terasa. Pendingin mobil pun tak terasa.
Sambil menarik nafas, kunyalakan mesin mobil. Menunggu, kemana lagi pikiran kosong ini akan membawaku.

****

Pikiran Kosong

***
Hari ini aku terbangun dengan perasaan berkecamuk. Ada anak kecil tidur memelukku semalaman. Ini rasanya mungkin ya seorang ibu, atau bukan seperti ini?.  Tidur yang tak tenang semalaman. Tapi ada rasa dibutuhkan yang menyenangkan. Ada pula rasa melindungi yang aneh. Mungkin demikian yang dirasakan seorang ibu.
Ponakanku, bukan darah daging memang, tapi seolah ya rasanya.
Tak harus menjalani tugas pula mendidik dan membesarkan, hanya menyicipi dikala menyenangkannya seorang anak kecil. Tak mengikuti bagian yang menyebalkannya anak kecil. Mungkinkah seorang ibu merasakan seperti itu. Aku rasa tidak,

Hari semakin siang, aku beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Malas terasa harus menuju kantor hari ini.

Tak lama aku sudah berada dibelakang stir mobil, menempuh jalan yang berbeda dari biasanya. Aku terkaget sebuah Metro Mini berhenti mendadak. Bunyi klakson panjang.
"Sial nih metro mini". Tanpa sadar, tangan ku masih di klakson mobil.
Seorang perempuan dipinggir jalan mengangkat alis. Mungkin klakson mobilku berisik.

Kupacu mobil lebih kencang, agar melewati Metro Mini sialan itu. Masih dengan pikiran menerawang, aku berhenti dilampu merah. Kini klakson mobil dibelakang ku yang mengagetkan, akupun buru buru belok kekanan.

Masih kosong pikiranku, jauh entah kemana, Mungkin sedang tak berpikir. Alam bawah sadarku membawa ke sebuah ATM.

" Selamat siang bu".
"Siang".
Ba bu ba bu.. dalam hatiku berkata, muka gw tua banget emangnya?

Lima ratus ribu cukup mungkin ya untuk pegangan hingga besok.

Aku buru buru turun tangga.

"Sudah bu?". Satpam yang sama menegur kembali. Aku balas dengan senyum kecut saja.

"Kaget gw, ibu lagi, setua apa sih muka gw". Sambil ngaca dimobil.

Dengan cepat mobil ku putar, keluar area ATM. Lima menit saja sudah berada dikantor. Turun dari mobil, panasnya luar biasa. Didalam kantor, suhunya dingin luar biasa.

"Hah kantor?....Dem, ngapain gw ke kantor. Ini kan hari minggu.

"Sebegitu kosongnya pikiran gw ya?".

Dengan pikiran kosong aku kembali ke mobil. Tarik nafas panjang, menunggu. Kemana pikiran kosong ini akan membawa ku lagi.


***

Wednesday, 19 June 2013

Aku Menjelang Senja

Aku tertunduk pada malam, berteduh pada hujan.

Menantang matahari, terlelap dalam ramai, senyap membuatku tetap terjaga.


Aku menjelang senja mengukir janji berbingkai lupa.

Lara lirih dan perih jadi perekat.

Diam, aku diam saja.

Seribu kata tertahan diam.


Daun yang jatuh mengering tak sia sia.

Aku yang jatuh hingga mati membuat gaduh, bahkan langit tak hendak mendengarkan.


Aku tertunduk pada malam, berulang kali, berteduh pada hujan.

Menantang matahari, terlelap dalam ramai, kali ini senyap karena aku tak dibumi.


Aku menjelang senja mengukir janji berbingkai lupa.

Lara lirih dan perih terurai.

Diam, aku diam saja.

Tak ada seribu kata, aku telah mati.


Daun yang jatuh mengering memang tak sia sia.

Aku yang jatuh hingga mati membuat gaduh pun tak sia sia, kali ini bukan langit yang mendengar,

Jagad raya, semesta turut berduka, melepas aku tanpa perih lara dan lirih.

Aku yang tak dibumi.


Aku yang telah lama mati.


Mati yang bukan sia sia.

Thursday, 14 March 2013

Surat Komite Etik KPK & Sprindik Anas

"Jangan takut kalau hanya dipanggil KPK. Kenapa harus takut dipanggil KPK. Takut itu kalau dipanggil Tuhan". Ini seloroh Sutan Bathoegana, diruang Make Up TvOne, Rabu 13 Maret 2013. Saat itu saya sedang persiapan untuk Program Meja Bundar, Bang Sutan kebetulan diundang di Kabar Petang. Kalimat ini keluar dari mulutnya begitu melihat saya. Memang, dua pekan lalu tepatnya Rabu 6 Maret 2013, saya memenuhi panggilan Komite Etik KPK terkait bocornya sprindik Anas Urbaningrum. Surat undangan dari KPK itu saya terima sehari sebelumnya. Selasa 5 Maret, seorang wanita dari sekretariat KPK menelpon saya dan menanyakan no.fax kantor, untuk mengirim undangan.

Apahal?. Masih tak jelas, sampai akhirnya saya terima sendiri fax dari KPK itu. Kurang lebih isinya meminta kehadiran saya ke Gedung KPK untuk mengkonfirmasi beberapa hal. Jadilah Rabu siang saya didampingi Wapemred TvOne, mendatangi gedung KPK. Tepat pukul satu, saya masuk keruang kerja salah satu pimpinan. Sudah ada didalamnya kelima anggota Komite Etik KPK serta dua orang notulen. Ada banyak detail yang tidak bisa saya sebutkan. Perbincangan siang itu sangat santai.Jauh dari yang ada dibenak saya, jika seseorang dipanggil oleh KPK. Namun enam jam itu sangat melelahkan. Saya juga harus akui sedikit menegangkan. 

Baik...kita tinggalkan perkara pemeriksaan oleh Komite Etik KPK, yang menjadi penekanan saya disini adalah mengenai substansi. Ada banyak pertanyaan yang datang ke saya, terkait pemeriksaan ini. "Kenapa lo dipanggil?. Lo bocorin sprindik? Ah..ga mungkin Anggi dipanggil, salah kali. Siapa dia?". Beragam reaksi memang. 

Saya hanya ingin menekankan, bahwa tidak ada info apapun, tidak ada bocoran surat atau draft sprindik yang salah peroleh dari internal KPK. Baik itu dari pimpinan ataupun dari pegawai KPK lainnya. Saya datang memenuhi panggilan Komite Etik KPK, menjalankan tugas sebagai warga negara yang baik,mungkin saya ada informasi atau klarifikasi yang bisa membantu penyelesaian masalah bocornya sprindik KPK. Sehingga Komite Etik bisa memperoleh informasi yang cukup untuk menghasilkan suatu putusan atau rekomendasi. Karena adalah nasib seseorang, nama baik seseorang dan kredibilitas seseorang yang dipertaruhkan disini. Sudah sewajarnya Komite Etik berhati hati dalam melakukan tugasnya. 

Saya hanya menyayangkan sejumlah pihak yang langsung menyimpulkan atau men-justifikasi bahwa dengan hadirnya saya memenuhi panggilan Komite Etik KPK, berarti saya terlibat dalam pembocoran sprindik. 

Masih ada banyak cerita yang menanti... :)
Terimakasih.

 

Tuesday, 12 March 2013

Surat Pembaca Untuk Majalah Tempo



Pengalaman buruk yang saya alami dengan Majalah Tempo. Sebelum saya tampilkan surat pembaca versi saya (yang tidak diedit Tempo), saya ingin menjelaskan sedikit kronologis munculnya surat protes saya pada majalah Tempo.
Pada Jumat 1 Maret 2013, saya ditelpon oleh redaktur Tempo, ia mengatakan akan membuat tulisan soal Anas Urbaningrum. Kebetulan saya mewawancarai Anas Urbaningrum, sebelum dan sesudah ia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Redaktur Tempo ini kemudian menanyakan bagaimana kondisi saat dikediaman AU, saat saya mewawancarai di Duren Sawit.
Redaktur tersebut kemudian mulai bertanya perihal foto / (lukisan) Kiyai Ali Maksum yang dipajang sebagai latar belakang saat saya berdialog dengan Anas. Redaktur Tempo ini kemudian bertanya, apakah disetting demikian? .
Saya menjelaskan, bahwa untuk lokasi, memang kami, pihak TvOne yang memilih, sementara properti lainnya disediakan oleh tuan rumah. Posisi foto yang ada dibelakang Anas memang sudah disediakan begitu adanya. Saat wawancara pertama dengan Anas memang ada permintaan untuk meletakan lukisan sebagai latar, karena wawancara kami lakukan diluar ruangan, didekat Pendopo.
Sementara untuk wawancara saya yang kedua kalinya dengan AU (setelah berhenti menjabat Ketum PD), tidak ada permintaan dari AU memajang lukisan Kyai Ali Maksum. 

Penjelasan saya sampaikan ke Redaktur Tempo, dan berulang kali saya sebutkan ini off the record.  Saat itu saya juga mengatakan, saya harus konfirmasi terlebih dahulu dengan pimpinan saya, apakah diperbolehkan share info seperti ini ke Tempo. Akhirnya saya diijinkan untuk menceritakan keadaan apa adanya seperti yang tertulis diatas.
Redaktur Tempo kemudian bertanya via bbm, "sudah ada kabar"?. Kemudian saya kabari, bahwa cerita ini boleh ditulis, namun saya mengingatkan kembali, bahwa saya tidak berkenan jika nama saya dicantumkan dalam tulisan Tempo.

Namun fakta yang terjadi berbeda :
 Komitmen off the record, tidak ditepati oleh pihak tempo. Tempo dengan jelas menulis   nama saya sebagai lead dari tulisan "Dari Halaman Satu Setengah". Saya langsung menghubungi redaktur yang bersangkutan, menyatakan keberatan.  Redaktur tersebut kemudian mengatakan ini adalah kesalahannya, dia salah dengar. Dia kemudian menyarankan agar saya menulis surat pembaca.

   2. Apa yang dikutip oleh Tempo, tidak sesuai dengan apa yang saya sampaikan.
     " properti itu sudah selalu disiapkan dan wajib ada", kata Dwi Anggia.
       Padahal tak satupun  pernyataan saya yang berbunyi seperti kutipan yang ditulis
      oleh Tempo.

Apa dasar Tempo menulis kalimat kutipan seolah oleh dari pernyataan saya??

Inilah kemudian yang menjadi keberatan saya, sehingga berakhir dengan protes keras yang saya tuangkan dalam surat pembaca. Yang kemudian diberi judul oleh Tempo " Keberatan Dwi Anggia ".  Surat ini kemudian diedit, meski sebelumnya saya sudah meminta agar tidak dilakukan pengeditan. Tempo mengatakan pengeditan surat lazim dilakukan tanpa mengurangi substansi. Saya kemudian meminta agar surat yang diedit, dikirim terlebih dahulu pada saya, sebelum turun cetak. Tapi tidak dilakukan juga oleh pihak Tempo.

Apa boleh buat?
Dibawah ini adalah bunyi surat saya, sebelum diedit oleh Tempo:

Surat pembaca majalah tempo

Melalui surat ini saya ingin melayangkan protes keras dan keberatan atas tulisan redaktur majalah tempo, diedisi Tempo 4-10 Maret 2013, pada tulisan yang berjudul Dari Halaman Satu Setengah.
'N menulis kalimat yang dikutip atas nama saya, Dwi Anggia Presenter TvOne, dalam kepala beritanya,  sebagai  berikut : "properti itu selalu sudah disiapkan dan wajib ada". Properti yang dimaksud adalah sarung yang digunakan Anas Urbaningrum dan lukisan KH Ali Maksum. Tampaknya Tempo hendak menunjukan "siapa Anas & dari mana dia berakar".
Faktanya adalah, saya tidak pernah mengeluarkan pernyataan itu. Sebelumnya, pada Jumat ( 1 Maret 2013), 'N' yang mengaku sebagai redaktur tempo, menghubungi saya melalui telpon, dan meminta saya menceritakan suasana dikediaman Anas Urbaningrum, dengan alasan karena saya dua kali mewawancarai Anas Urbaningrum.
'N' menanyakan perihal lukisan yang dijadikan latarbelakang saat saya mewawancarai Anas. Saya jelaskan lukisan itu hanya dipasang sekali saja dari dua wawancara yang saya lakukan.
Saya menjelaskan TvOne selaku tamu, memilih dan menentukan lokasi saat wawancara, sedangkan properti lainnya disediakan dan ditentukan tuan rumah., termasuk lukisan K.H Ali Maksum serta busana apa yang  digunakan Anas . Memang ada permintaan untuk memasang lukisan sebagai latarbelakang wawancara, tapi itu hanya satu kali pada tanggal 7 Februari 2013, sebelum AU ditetapkan sebagai tersangka. Tidak ada lukisan KH Ali Maksum dalam wawancara saya yang coda dikediaman Anas Urbaningrum.
Sangat jelas, bahwa kutipan yang ditulis 'N' sama sekali berbeda dengan pernyataan yang saya berikan. 'N' menulis kesimpulan dan pendapat pribadinya  dalam tulisan tersebut, dan menggunakan nama saya. Ini yang menjadi keberatan saya!. Jika 'N' ingin beropini, lebih baik tidak usah mewawancarai saya sebelumnya.
Selanjutnya saya menyatakan 'N' telah melanggar komitmen, karena saya sudah meminta agar nama saya tidak dicantumkan dalam tulisan.
Atas dua hal ini, 'N' selaku redaktur Tempo, belakangan sudah mengakui kesalahannya, ketika saya konfirmasi melalui telpon. Dengan alasan, dia salah dengar.
Adalah sangat tidak profesional dan sangat disayangkan ketika salah dengar dijadikan alasan, untuk sebuah majalah seperti Tempo. Apalagi sebelumnya saya berkali kali ingatkan, "ini adalah off the record", saya tidak mau nama saya dicantumkan.

====

Demikian isi surat yang saya layangkan.  Nama redaktur sengaja tidak saya cantumkan. Tempo tidak menuliskan nama redakturnya adalah demi menjaga kredibilitas redaktur ataupun ini sudah menjadi kebijakan redaksi, apapun itu saya hargai.
Tapi yang jelas, melalui surat pembaca ini saya ingin menyampaikan kekecewaan atas kutipan yang disampaikan yang tidak benar dan komitmen yang tidak ditepati.

Sekian terimakasih

Tuesday, 1 January 2013

Meretas Mimpi Tahun Yang Baru

Semilir angin membelai malam dan aku..
Tahun berganti, waktu berlalu.
Mereka tertawa, menangis, bahagia.
Diujung sana ada yang lara berselimut duka.
Siapa peduli?
Ini padang, bung.
Langkahmu sendiri langkah sendiri.
Mungkin seiring, mungkin bersebrangan.
Meski tatap kadang bersirobok, tapi hati berpunggungan.



Dilepas senyum  selega  jelaga. Menari tangan dan kaki. Hitung mundur sudah berlalu. Apa didepan mata? Masa lalu yang tertinggal? Masa depan yang tak bertitik terang. Meraba raba merintih tertatih. Siapa peduli?

Aku berkalung dendam, kau berkalung pilu, dia berkalung cinta. Mereka apa? Tertawa menatap, senyum tapi mengutuk. 

Manusia memang hidup. Tapi ingat, yang hidup berbentuk dari benci dendam cinta dan duka.

Aku pun bingung.. Tenang sajalah.
 

Friday, 2 November 2012

One Man One Vote and U.S election

The United State of America, a well known democratic country. Known because of the freedom of speech. This year is a big year for the U.S, where election being held. Talking about presidential election, a question pop up in my mind. Would it be different with Indonesia's election? Or would it be the same? One big question answered. The election system is totally different. Out of my imagination. A bit complicated if I can tell. In Indonesia with do "one man one vote". Everyone use their right to choose their own leader, directly. It happens in any races, The president, governor, house of representative and local head of administration. Compare to U.S election , Indonesian voters faced with a paper within candidates pictures ( only the president ). While in U.S, every voter faced with several names that they might not know each of them personally. Because, you are not only elect your president, but as well as governor, member of house representative, state secretary, the judge and so on. One who want to reach the victory have to won the electoral college. Then the popular vote not going to determine who the president is. It happened on US 2000 election. Were Gore candidate from democrat won the popular vote, but lost the electoral college. Many polling predict this history repeated, but in the opposite. Obama predicted going to win the electoral, while Romney gain more popular vote. This is a hundred percent different election system compare to Indonesia. Where we, Indonesian, decide our own president with one man one vote.

Thursday, 14 June 2012

Jiwa dan kalbu sudah terlanjur milikmu

Sayang.. ampuni aku yang sekadar gelak tawa, jenaka yang tak memiliki, harap yang temaram, pelipur tanpa kuasa.. sungguh aku tak berujung denganmu, kamu jelmaan asa, muara keindahan, sudut batin yang sempurna menjawab semua,  cemas sekejap sirna. Selamanya memang bukan masa yg aku punya, tapi kemarin, kini, dan saat demi saat nanti.. Aku mau berusaha yang terbaik.. Tuk melimpah senyumku.. Tuk ada diantara jari jemarimu.. Tuk menyapa dari segala alur kemungkinan.. Tuk mematri bahagiamu tanpa pasti namun percaya.. kelak kita selalu bersisian.. Aku tak mau kehilangan.. jiwa dan kalbu ini sudah terlanjur kau punya.. by:belahanjiwa-jawabansemuagundah

Cinta rahasia

Kembali merasakan cinta rahasia. Sepertinya cinta untukku hanya sebatas cinta rahasia. Di saat rahasia, aku benar benar bisa mencintai dan rasa nya tak berlebihan kalau aku bilang, aku juga dicintai. Luka masa lalu hilang sudah, jauh ,hilang. Tapi seperti kata yang selalu berulang, jatuh cinta sama dengan membuka kesempatan hati untuk dilukai,lagi. Ini sedikit mendekati luka. Yang terjadi sekarang, hatiku telah ditelanjangi. Maka kesempatan dilukai semakin membesar. Tapi aku rela, selama yang melukai hatiku adalah engkau sipemilik hati. Engkau yang aku cinta tanpa syarat. Aku rela kau bahagia dengannya. Jangan ragu dan takut ungkapkan bahagiamu itu. Tak usah khawatirkan aku. Aku memang cinta tanpa syarat yang dihadirkan Tuhan untuk mu. Berbahagialah sayang. Aku rela menjadi keset disaat kakimu kumuh. Kumuh oleh darah luka yang ditorehkan olehnya. Aku rela membasuh luka hatimu karena nya ,dengan cintaku. Karena aku tanpa syarat untukmu. Bahagialah dengan nya sayang. Aku selalu ada disekitarmu, di tiap hela nafasmu, ditiap denyut darah kejantungmu, menyaksikan dan menemanimu bahagia. Hatiku? Tak mengapa sayang. Sudah kubilang aku tanpa syarat. Hatiku yang serpihan ini telah kugadai, saat pertamakali,aku ucapkan cinta padamu. Bahagialah saja sayang. Atau amanlah saja. Tak ada keberanian diantara kita untuk mengakui cinta rahasia. Biar kutelan getir yang sudah aku pilih dari semula. Getir berhias bahagia, saat melihat kau bahagia.

Maafkan aku bila waktu itu tiba

hai sabtu,aku masih menunggu. pagi tak kunjung menyapa. langitpun bungkam dengan kelamnya, sambil melepas satu per satu butiran hujan. kita memang terpisah ruang dan waktu,tapi hati yang berdampingan adalah keniscayaan. seperti riak ombak dilautan,tak henti meski malam datang. sabtu, mengapa hujan mu tak seperti biasa? mengapa kini dinginmu menusuk hingga ke tulang? mengapa anginmu membekukan hati? tapi aku tak pernah habis akal. sudut hatiku masih menyimpan setitik bara, bara yang kujaga untuk menghangatkan,saat dingin mu tak seperti biasa. bara yg kian meredup namun tetap menghangatkan. tapi sabtu, bara ini meski pelan,membakar sudut hati. menyisakan luka. jadi sabtu, jangan salahkan jika suatu saat aku harus memilih, beku karena dinginmu atau terbakar karena bara ku. dua dua nya tak menyenangkan sabtu. maafkan aku bila waktu itu tiba

Sunday, 15 April 2012

Jalan menuju hati

Kau..
Bukan raja memang.
Bukan penguasa.
Bukan yang bergelimangan segala hal.
Pelan pelang kau kumpulkan serpihan itu, dengan sabar kau titi dan tata satu persatu.
Merekapun sepertinya tak mau lakukan itu
Tapi kau, berkeringat berairmata merajutnya untukku tanpa hiraukan detik waktu.



Bagiku kau mulia.
Pelan pelan kau tutup luka menganga, pelan pelan kau buka hati yang terpatri.
Tak sedikit kata terucap yang melukaimu, tapi kau seolah berlalu dan tetap membagi senyum termanis untuk ku.
Aku kini bukan aku dulu. Aku kini mencoba menimba positif dari negatifku dulu.
Kau pelan pelan bimbing tanganku untuk belajar menggenggam kepercayaan.
Kepercayaan yang telah lama tak lagi ku sentuh.
Kepercayaan, yang aku sendiri, sulit melafalkannya.
Kau memang belum merebut cinta yang terkubur ribuan kilo di lubuk hati atau dasa laut.
Tapi kau tau jalan menuju kesana.
Dan aku entah mengapa, sedikit rela memberikan arahnya.

Terimakasih untuk cintamu yang tak bersyarat

aku merajut kasih

Hai sayang,mata ini merindukan setiap desahan lembut nafasmu.
Nafas ketika kau terjaga diiringi cahaya mentari.
Sayang,aku juga merindukan bisikanmu. Bisakan saat mata terpejam, dan hati mendengarkan.



Duhai sayang, padamu aku temukan tentram, padamu juga aku temukan gulana.
Gulana membayangkan harus melepasmu.
Sayang, setiap langkah ku ingin bergandengan tangan denganmu.
Membelah dunia kita berdua,menantang angin dan ombak kita bersama.
Sayang, denganmu gentar seolah tak pernah ku kenal.
Sayang, denganmu mentari seolah tak pernah terbagi diantara dua sisi bumi.
Sayang, aku ingin terus begini saja, terlelap dalam pelukanmu.
Sayang, aku masih haus kasihmu,meski tenggelam dilautanmu.
Sayang, ini aku yang tak pernah terpuaskan karena cinta luar biasa yg tak terbendung.


Aku malaikat dan iblis, akulah tuan dan hamba

Duhai engkau.. Aku jatuh cinta pada setiap tulisanmu.
Aku menatap urut...
Aku membaca urut, satu per satu kata yang terangkai dalam untaian kalimat.
Tak satu makian yang terlontar darimu , meski hati kadang terluka, meski hati tak selamanya tersenyum.

Duhai engkau, padamu aku belajar menata rasa dan hati. Menata emosi dan akal. Menjadi yang rasional dari emosional.
Duhai engkau, kau memang bukan kekasih hati yang aku cinta menyeluruh, karena kita tidak dituliskan untuk bersama.
Aku pengagummu saja, aku mengagumi dari kejauhan saja.
Setiap kata yang kau goreskan adalah penyejuk jiwa, pelebur lara, menentramkan rasa.

Aku memujamu bagaikan malaikat pada Tuhannya, pun iblis pasa penciptanya.
Aku memujamu bagai pelayan pada tuannya.
Aku menginginkanmau bagai tuan menitah hambanya.

Aku bisa menjadi malaikat pun setan.
Aku bisa menjadi air pun api.
Aku menjadi apapun yang bertentangan di dunia ini, demi bisa memandangmu, tanpa mententuh seujung kukupun.
Aku adalah dahaga di tengah sahara, yang hanya menikmati fatamorgana. Itulah aku padamu. Tapi dahaga tak pernah bisa membunuh yang merasakannya bukan?
Dahaga hanya menyiksa, itu pula yang aku rasakan, saat hanya bisa mengagumimu.
Itupun akan kutebus,demi bisa menjadi pengagum mu

Angel and demon, master and servant, both i am for you.