Tuesday, 12 March 2013

Surat Pembaca Untuk Majalah Tempo



Pengalaman buruk yang saya alami dengan Majalah Tempo. Sebelum saya tampilkan surat pembaca versi saya (yang tidak diedit Tempo), saya ingin menjelaskan sedikit kronologis munculnya surat protes saya pada majalah Tempo.
Pada Jumat 1 Maret 2013, saya ditelpon oleh redaktur Tempo, ia mengatakan akan membuat tulisan soal Anas Urbaningrum. Kebetulan saya mewawancarai Anas Urbaningrum, sebelum dan sesudah ia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Redaktur Tempo ini kemudian menanyakan bagaimana kondisi saat dikediaman AU, saat saya mewawancarai di Duren Sawit.
Redaktur tersebut kemudian mulai bertanya perihal foto / (lukisan) Kiyai Ali Maksum yang dipajang sebagai latar belakang saat saya berdialog dengan Anas. Redaktur Tempo ini kemudian bertanya, apakah disetting demikian? .
Saya menjelaskan, bahwa untuk lokasi, memang kami, pihak TvOne yang memilih, sementara properti lainnya disediakan oleh tuan rumah. Posisi foto yang ada dibelakang Anas memang sudah disediakan begitu adanya. Saat wawancara pertama dengan Anas memang ada permintaan untuk meletakan lukisan sebagai latar, karena wawancara kami lakukan diluar ruangan, didekat Pendopo.
Sementara untuk wawancara saya yang kedua kalinya dengan AU (setelah berhenti menjabat Ketum PD), tidak ada permintaan dari AU memajang lukisan Kyai Ali Maksum. 

Penjelasan saya sampaikan ke Redaktur Tempo, dan berulang kali saya sebutkan ini off the record.  Saat itu saya juga mengatakan, saya harus konfirmasi terlebih dahulu dengan pimpinan saya, apakah diperbolehkan share info seperti ini ke Tempo. Akhirnya saya diijinkan untuk menceritakan keadaan apa adanya seperti yang tertulis diatas.
Redaktur Tempo kemudian bertanya via bbm, "sudah ada kabar"?. Kemudian saya kabari, bahwa cerita ini boleh ditulis, namun saya mengingatkan kembali, bahwa saya tidak berkenan jika nama saya dicantumkan dalam tulisan Tempo.

Namun fakta yang terjadi berbeda :
 Komitmen off the record, tidak ditepati oleh pihak tempo. Tempo dengan jelas menulis   nama saya sebagai lead dari tulisan "Dari Halaman Satu Setengah". Saya langsung menghubungi redaktur yang bersangkutan, menyatakan keberatan.  Redaktur tersebut kemudian mengatakan ini adalah kesalahannya, dia salah dengar. Dia kemudian menyarankan agar saya menulis surat pembaca.

   2. Apa yang dikutip oleh Tempo, tidak sesuai dengan apa yang saya sampaikan.
     " properti itu sudah selalu disiapkan dan wajib ada", kata Dwi Anggia.
       Padahal tak satupun  pernyataan saya yang berbunyi seperti kutipan yang ditulis
      oleh Tempo.

Apa dasar Tempo menulis kalimat kutipan seolah oleh dari pernyataan saya??

Inilah kemudian yang menjadi keberatan saya, sehingga berakhir dengan protes keras yang saya tuangkan dalam surat pembaca. Yang kemudian diberi judul oleh Tempo " Keberatan Dwi Anggia ".  Surat ini kemudian diedit, meski sebelumnya saya sudah meminta agar tidak dilakukan pengeditan. Tempo mengatakan pengeditan surat lazim dilakukan tanpa mengurangi substansi. Saya kemudian meminta agar surat yang diedit, dikirim terlebih dahulu pada saya, sebelum turun cetak. Tapi tidak dilakukan juga oleh pihak Tempo.

Apa boleh buat?
Dibawah ini adalah bunyi surat saya, sebelum diedit oleh Tempo:

Surat pembaca majalah tempo

Melalui surat ini saya ingin melayangkan protes keras dan keberatan atas tulisan redaktur majalah tempo, diedisi Tempo 4-10 Maret 2013, pada tulisan yang berjudul Dari Halaman Satu Setengah.
'N menulis kalimat yang dikutip atas nama saya, Dwi Anggia Presenter TvOne, dalam kepala beritanya,  sebagai  berikut : "properti itu selalu sudah disiapkan dan wajib ada". Properti yang dimaksud adalah sarung yang digunakan Anas Urbaningrum dan lukisan KH Ali Maksum. Tampaknya Tempo hendak menunjukan "siapa Anas & dari mana dia berakar".
Faktanya adalah, saya tidak pernah mengeluarkan pernyataan itu. Sebelumnya, pada Jumat ( 1 Maret 2013), 'N' yang mengaku sebagai redaktur tempo, menghubungi saya melalui telpon, dan meminta saya menceritakan suasana dikediaman Anas Urbaningrum, dengan alasan karena saya dua kali mewawancarai Anas Urbaningrum.
'N' menanyakan perihal lukisan yang dijadikan latarbelakang saat saya mewawancarai Anas. Saya jelaskan lukisan itu hanya dipasang sekali saja dari dua wawancara yang saya lakukan.
Saya menjelaskan TvOne selaku tamu, memilih dan menentukan lokasi saat wawancara, sedangkan properti lainnya disediakan dan ditentukan tuan rumah., termasuk lukisan K.H Ali Maksum serta busana apa yang  digunakan Anas . Memang ada permintaan untuk memasang lukisan sebagai latarbelakang wawancara, tapi itu hanya satu kali pada tanggal 7 Februari 2013, sebelum AU ditetapkan sebagai tersangka. Tidak ada lukisan KH Ali Maksum dalam wawancara saya yang coda dikediaman Anas Urbaningrum.
Sangat jelas, bahwa kutipan yang ditulis 'N' sama sekali berbeda dengan pernyataan yang saya berikan. 'N' menulis kesimpulan dan pendapat pribadinya  dalam tulisan tersebut, dan menggunakan nama saya. Ini yang menjadi keberatan saya!. Jika 'N' ingin beropini, lebih baik tidak usah mewawancarai saya sebelumnya.
Selanjutnya saya menyatakan 'N' telah melanggar komitmen, karena saya sudah meminta agar nama saya tidak dicantumkan dalam tulisan.
Atas dua hal ini, 'N' selaku redaktur Tempo, belakangan sudah mengakui kesalahannya, ketika saya konfirmasi melalui telpon. Dengan alasan, dia salah dengar.
Adalah sangat tidak profesional dan sangat disayangkan ketika salah dengar dijadikan alasan, untuk sebuah majalah seperti Tempo. Apalagi sebelumnya saya berkali kali ingatkan, "ini adalah off the record", saya tidak mau nama saya dicantumkan.

====

Demikian isi surat yang saya layangkan.  Nama redaktur sengaja tidak saya cantumkan. Tempo tidak menuliskan nama redakturnya adalah demi menjaga kredibilitas redaktur ataupun ini sudah menjadi kebijakan redaksi, apapun itu saya hargai.
Tapi yang jelas, melalui surat pembaca ini saya ingin menyampaikan kekecewaan atas kutipan yang disampaikan yang tidak benar dan komitmen yang tidak ditepati.

Sekian terimakasih

61 comments:

Anonymous said...

bongkar semua konspirasi...

Anonymous said...

Dibahas aja mba di ILC. Telanjangi aja tuh Tempo yang coba jebak mba dlm upaya mereka menghancurkan AU. Klo wawancara dr mba Ɣƍ notabene pegiat media aja mereka plintir, aplg dr sumber2 Ɣƍ lain.

Anonymous said...

Hemm.. Ikut prihatin .. Dengan sejawat saja tega seperti itu .. Bagaimana dengan narsum yang lain? Apalagi yg anonim?

selamet hariadi said...

Majalah Tempo sepertinya menjadi kurang mengerti ETIKA JURNALISME.

Semoga segera berbenah diri atau dihapuskan dalam Pers Dunia.

Bisot Palawarukka said...

Salah dengar... Ya sepertinya tempo sdh memiliki opini sendiri dan kemudian tinggal mencari-cari info yg bisa mendukung opininya. Bias dan tidak profesional.

Anonymous said...

tempo diambang kehancuran?

Anonymous said...

kredibilitas majalah Tempo sudah hancur, tidak layak dikonsumsi... sekian

Anonymous said...

yang begini neeh.. hadeeeh.. maunya apa si tuhh (^^^)

Anonymous said...

setuju sama yg diatas : Dibahas aja mba di ILC. Telanjangi aja tuh Tempo yang coba jebak mba dlm upaya mereka menghancurkan AU. Klo wawancara dr mba Ɣƍ notabene pegiat media aja mereka plintir, aplg dr sumber2 Ɣƍ lain.

Anonymous said...

TEMPO sudah diambang tempo kehancuran :)

Ali Imron said...

Lawan Tempo Jangan gentar Mbak

Anonymous said...

Alasannya "salah dengar" itu alasan jurnalis kampungan

Anonymous said...

majalah TEMPO sudah tidak lagi mengindahkan norma2 media. cenderung memaparkan CERITA versinya sendiri bukan BERITA. besar kemungkinan ada pesanan? siapa dibalik semuanya? Bongkaaarrr... bongkarrr....

Anonymous said...

sama aja tipiwan juga tukang tipu
tempo di kelola si goen, aktifis liberal radikal
sedangkan tipiwan juga dimiliki oleh golkar, penyandang dana untuk freedom institute
media masa sekuler laknatullah memang tukang tipu
sesama tukang tipu saling menipu

Anonymous said...

halah gapapa ah. biasa aja. anggap aja itu karma utk reporter tvone krn dulu juga pernah bikin interviu rekayasa dg presenter indy. bravo tempo!

Fajar M Hasan said...

Tempo makin kampungan dan tidak profesional. Apa karena mengejar target dari Big Boss nya di Amerika jadi semaunya seperti itu ?

Anonymous said...

anggap saja ini kualat :P

Abd Aziz said...

Ikut prihatin. Beginilah bahayanya Media sekarang. Pertanyaannya adalah masih adakah media sekarang yang bebas dari keinginan pemiliknya, tdk menggiring pembaca/pendengar, dan membiarkan pembaca/pendengar sebagai penilai? semoga semua media bisa berbenah.

Si BoHay said...

Wah nambah wawasan nih komentar2nya....terutama thp tempo dan tvwan. Tapi juga harus jujur jangan jadi fitnah....

IK Blog said...

Ah tempo emang tempe, dah bongkrek

menurut sumber dalam KPK yang bisa dipercaya, si anu ditangkap ketika sedang bugil

sementara klarifikasi johan budi, si anu ditangkap ketika di lobi

Anonymous said...

Amatir...

Anonymous said...

Jgn dibaca lagi, mending dibacem sekalian..

Anonymous said...

TV One kredibelkah ?

Nunut Sihombing said...

Sering sekali terjadi unfair antar jurnalis demi sepotong berita.

abbaz said...

TVOne kena batunya, dulu aja juga janji sama Jokowi waktu mau wawancara. Pas wawancara disiarkan, janji tinggal janji, Jokowi ditipu. Trus besoknya dimuat di media. TVOne, gak enakkan ditipu?

abbaz said...

TVOne kena batunya, dulu aja juga janji sama Jokowi waktu mau wawancara. Pas wawancara disiarkan, janji tinggal janji, Jokowi ditipu. Trus besoknya dimuat di media. TVOne, gak enakkan ditipu?

Anonymous said...

tempo tinggal nunggu bangkrut nya, nah TV One kalo g mau kayak begitu jangan ikut2an yaaah..walau kita tahu siapa owner tv one kita berharap tidak jadi kayak media indonesia en metro mini..eh..metro tv..

Firdus ld said...

padahal enak nikmatin tempo, apalagi serial bapak bangsanya.
Tapi klo proses pembuatannya mengandung formalin (biar awet bertahun2) dan pewarna (biar sedap diliat setiap edisinya).
Kayanya perlu liputan investigasi betapa menjijikannya isi dibalik dapur tempo.

Anonymous said...

TV One kualat...

dwi anggia said...
This comment has been removed by the author.
blazzeria said...

Oow....owW tempe legi...tempe lagi...rupanya opini yg dibuat memang sdh direncanakan sebelumnya walaupun tidak ada fakta yg penting maksud tercapai...

Mario Pierre said...

Klo media uda saling serang, mau gimana ya?! Upaya mediasi emng ga bisa? Apalagi sama2 media besar dan bernama, kalau main perang blog spt ini kasian insan jurnalis yang masih bagus di kedua Media Tsb, jangan pukul rata, musuh bersama ya KORUPTOR/ penghianat bangsa,bukan media namun "oknum" medianya. Sekedar masukan,bersatulah Jurnalis!

Mario Pierre said...

Klo media uda saling serang, mau gimana ya?! Upaya mediasi emng ga bisa? Apalagi sama2 media besar dan bernama, kalau main perang blog spt ini kasian insan jurnalis yang masih bagus di kedua Media Tsb, jangan pukul rata, musuh bersama ya KORUPTOR/ penghianat bangsa,bukan media namun "oknum" medianya. Sekedar masukan,bersatulah Jurnalis!

Mario Pierre said...

Klo media uda saling serang, mau gimana ya?! Upaya mediasi emng ga bisa? Apalagi sama2 media besar dan bernama, kalau main perang blog spt ini kasian insan jurnalis yang masih bagus di kedua Media Tsb, jangan pukul rata, musuh bersama ya KORUPTOR/ penghianat bangsa,bukan media namun "oknum" medianya. Sekedar masukan,bersatulah Jurnalis!

iwanyuliyanto said...

Sebenarnya ada apa kini dengan Tempo, kok beberapa kali melanggar kode etik jurnalisme?
Independensinya terpinggirkan oleh kepentingan bisnis dan politik.

Anonymous said...

saya pro yg melawan koruptor, siapapun dia

Dzulfikar said...

Beda perkara kalo dikait"in sm kredibilitas Tv1,toh beritanya TvOne kan lewat redaksi/redaktur dkk. Emang janc*k tuh Tempo,kirain media macem gitu kredibilitasnya tinggi -__-

Anonymous said...

gua makanya udah males liat berita di media manapun suka putar balik fakta. katanya jurnalis perubah bangsalah apalah gua males dengernya. mending kerja yang jujur untuk diri sendiri. kalo Tempo emang udah keliatan dari dulu Tvone, metro tv, RCTI dll juga sama. kadang dipikir masih bagus Dora atau spongebob enak ditonton karena emang cerita :D

Agus Suherman said...

Dasar Tempe busuk

Agus Suherman said...

Dasar Tempe busuk

Agus Suherman said...

Dasar Tempe

Anonymous said...

Tempo sangat tidak profesional banget sih.

http://www.islamedia.web.id/2013/03/5-blunder-fatal-tempo-dalam-membuat.html

Firdus ld said...

ayo "reportase investigasi" T****V,
jangan cuma menyorot kecurangan-kecurangan pedagang pasar.
(ntar berbondong2 pada belanja di mal2 besar lho).

mainkan kamera tersembunyinya,
liat isi dapur tempo.

"reach a mass audience
and become part of the ESTABLISHED TRUTH.
In this way a “line” is
IMPLANTED IN THE PUBLIC MIND
with all the effectiveness of
a system of CENSORSHIP,
while the ILLUSION of
an open press and society is maintained."
-Chomsky-

:p

Firdus ld said...

ayo "reportase investigasi" T****V,
jangan cuma menyorot kecurangan-kecurangan pedagang pasar.
(ntar berbondong2 pada belanja di mal2 besar lho).

mainkan kamera tersembunyinya,
liat isi dapur tempo.

"reach a mass audience
and become part of the ESTABLISHED TRUTH.
In this way a “line” is
IMPLANTED IN THE PUBLIC MIND
with all the effectiveness of
a system of CENSORSHIP,
while the ILLUSION of
an open press and society is maintained."

-Chomsky-

:p

Galih Nur I said...

Apapun medianya, Yg pasti idealnya sebuah media itu jujur, berita yg disampaikan tidak dikurangi dan tidak dilebihi, netral dan tidak berpihak.
Qtunggu Kak @dwianggia bikin stasiun TV yang netral dan kritis dlm menyampaikan berita... :)

Supplier SEPATU SAFETY said...

Sebaiknya TEMPO diminta untuk merevisi dan meminta maaf scr publik.
Sehingga ada klarivikasi yg bisa dipertanggungjawabkan dan tidak menjadi polemik.

Salam

Anonymous said...

wah,,wah,,wah,, bisa bahay tuh,udah keracunan nafsu tuh tempo

nitip link yg mbak,thanks...
www.karimunjawatrip.com ( paket wisata karimunjawa trip termurah )

purox said...

Yayaya sulit bedain mana domba mana srigala om om tante tante tenang aje,
Lha kerja mereka kan jual aib orang, jadi kl aibnya ke buka kan wajar, jgn marah jgn bersedih semua ada hikmahnya.

Anonymous said...

udah....... masukin tong sampah aja... TEMPO
gak bermutu

Wawan Santoso said...

Banyak akun anonim berkomentar..siapakah dia? Eh, mereka? xixixixi

zahra said...

namanya juga TEMPO... Tempo doeloe.. Tempo-tempo salah.. tempo-tempo benar.. untuk pake O.. coba pake E..

zahra said...

mental tempo kaya tempe..

Anonymous said...

Tempo majalah/Koran borex... eh... bodrex...

Anonymous said...

saat ini banyak yang mengejar popolaritas tanpa mengindahkan etika seperti halnya koran tempo...semoga tak terulang lagi kedepannya..

Anonymous said...

Wawan Santoso berkata...

Banyak akun anonim berkomentar..siapakah dia? Eh, mereka? xixixixi

14 Maret 2013 08.37
Blogger zahra berkata...

namanya juga TEMPO... Tempo doeloe.. Tempo-tempo salah.. tempo-tempo benar.. untuk pake O.. coba pake E..

14 Maret 2013 12.51
Blogger zahra berkata...
Anonim Anonim berkata...

Tempo majalah/Koran borex... eh... bodrex...

14 Maret 2013 16.59
Anonim Anonim berkata...

saat ini banyak yang mengejar popolaritas tanpa mengindahkan etika seperti halnya koran tempo...semoga tak terulang lagi kedepannya..

15 Maret 2013 01.58

Anonymous said...

SALAH DENGAR? Memangnya boleh jadi alasan? Ternyata kelas nya Tempo hanya seperti itu...

Warga Kahuripan Nirwana Bersatu said...

boleh saya share, mbak Dwi Anggia?

jam tangan casio said...

nice blog :)

Anonymous said...

salut buat dwi anggia yg telah tunjukan profesionalisme nya, kasus ini sangat menarik karena melibatkan sesama jurnalis, kami rakyat kecil yang awam juga mendapatkan pelajaran yg berarti. Bravo dwi anggia, kebenaran yang pasti menang. salam, Rizal

Anonymous said...

Kasihan mbak dwi diperalat tempo yang memang sudah punya rencana sendiri.

Anonymous said...

Isi majalah tempo sudah dikendalikan oleh si pemilik modal.