Tuesday, 12 March 2013

Surat Pembaca Untuk Majalah Tempo



Pengalaman buruk yang saya alami dengan Majalah Tempo. Sebelum saya tampilkan surat pembaca versi saya (yang tidak diedit Tempo), saya ingin menjelaskan sedikit kronologis munculnya surat protes saya pada majalah Tempo.
Pada Jumat 1 Maret 2013, saya ditelpon oleh redaktur Tempo, ia mengatakan akan membuat tulisan soal Anas Urbaningrum. Kebetulan saya mewawancarai Anas Urbaningrum, sebelum dan sesudah ia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Redaktur Tempo ini kemudian menanyakan bagaimana kondisi saat dikediaman AU, saat saya mewawancarai di Duren Sawit.
Redaktur tersebut kemudian mulai bertanya perihal foto / (lukisan) Kiyai Ali Maksum yang dipajang sebagai latar belakang saat saya berdialog dengan Anas. Redaktur Tempo ini kemudian bertanya, apakah disetting demikian? .
Saya menjelaskan, bahwa untuk lokasi, memang kami, pihak TvOne yang memilih, sementara properti lainnya disediakan oleh tuan rumah. Posisi foto yang ada dibelakang Anas memang sudah disediakan begitu adanya. Saat wawancara pertama dengan Anas memang ada permintaan untuk meletakan lukisan sebagai latar, karena wawancara kami lakukan diluar ruangan, didekat Pendopo.
Sementara untuk wawancara saya yang kedua kalinya dengan AU (setelah berhenti menjabat Ketum PD), tidak ada permintaan dari AU memajang lukisan Kyai Ali Maksum. 

Penjelasan saya sampaikan ke Redaktur Tempo, dan berulang kali saya sebutkan ini off the record.  Saat itu saya juga mengatakan, saya harus konfirmasi terlebih dahulu dengan pimpinan saya, apakah diperbolehkan share info seperti ini ke Tempo. Akhirnya saya diijinkan untuk menceritakan keadaan apa adanya seperti yang tertulis diatas.
Redaktur Tempo kemudian bertanya via bbm, "sudah ada kabar"?. Kemudian saya kabari, bahwa cerita ini boleh ditulis, namun saya mengingatkan kembali, bahwa saya tidak berkenan jika nama saya dicantumkan dalam tulisan Tempo.

Namun fakta yang terjadi berbeda :
 Komitmen off the record, tidak ditepati oleh pihak tempo. Tempo dengan jelas menulis   nama saya sebagai lead dari tulisan "Dari Halaman Satu Setengah". Saya langsung menghubungi redaktur yang bersangkutan, menyatakan keberatan.  Redaktur tersebut kemudian mengatakan ini adalah kesalahannya, dia salah dengar. Dia kemudian menyarankan agar saya menulis surat pembaca.

   2. Apa yang dikutip oleh Tempo, tidak sesuai dengan apa yang saya sampaikan.
     " properti itu sudah selalu disiapkan dan wajib ada", kata Dwi Anggia.
       Padahal tak satupun  pernyataan saya yang berbunyi seperti kutipan yang ditulis
      oleh Tempo.

Apa dasar Tempo menulis kalimat kutipan seolah oleh dari pernyataan saya??

Inilah kemudian yang menjadi keberatan saya, sehingga berakhir dengan protes keras yang saya tuangkan dalam surat pembaca. Yang kemudian diberi judul oleh Tempo " Keberatan Dwi Anggia ".  Surat ini kemudian diedit, meski sebelumnya saya sudah meminta agar tidak dilakukan pengeditan. Tempo mengatakan pengeditan surat lazim dilakukan tanpa mengurangi substansi. Saya kemudian meminta agar surat yang diedit, dikirim terlebih dahulu pada saya, sebelum turun cetak. Tapi tidak dilakukan juga oleh pihak Tempo.

Apa boleh buat?
Dibawah ini adalah bunyi surat saya, sebelum diedit oleh Tempo:

Surat pembaca majalah tempo

Melalui surat ini saya ingin melayangkan protes keras dan keberatan atas tulisan redaktur majalah tempo, diedisi Tempo 4-10 Maret 2013, pada tulisan yang berjudul Dari Halaman Satu Setengah.
'N menulis kalimat yang dikutip atas nama saya, Dwi Anggia Presenter TvOne, dalam kepala beritanya,  sebagai  berikut : "properti itu selalu sudah disiapkan dan wajib ada". Properti yang dimaksud adalah sarung yang digunakan Anas Urbaningrum dan lukisan KH Ali Maksum. Tampaknya Tempo hendak menunjukan "siapa Anas & dari mana dia berakar".
Faktanya adalah, saya tidak pernah mengeluarkan pernyataan itu. Sebelumnya, pada Jumat ( 1 Maret 2013), 'N' yang mengaku sebagai redaktur tempo, menghubungi saya melalui telpon, dan meminta saya menceritakan suasana dikediaman Anas Urbaningrum, dengan alasan karena saya dua kali mewawancarai Anas Urbaningrum.
'N' menanyakan perihal lukisan yang dijadikan latarbelakang saat saya mewawancarai Anas. Saya jelaskan lukisan itu hanya dipasang sekali saja dari dua wawancara yang saya lakukan.
Saya menjelaskan TvOne selaku tamu, memilih dan menentukan lokasi saat wawancara, sedangkan properti lainnya disediakan dan ditentukan tuan rumah., termasuk lukisan K.H Ali Maksum serta busana apa yang  digunakan Anas . Memang ada permintaan untuk memasang lukisan sebagai latarbelakang wawancara, tapi itu hanya satu kali pada tanggal 7 Februari 2013, sebelum AU ditetapkan sebagai tersangka. Tidak ada lukisan KH Ali Maksum dalam wawancara saya yang coda dikediaman Anas Urbaningrum.
Sangat jelas, bahwa kutipan yang ditulis 'N' sama sekali berbeda dengan pernyataan yang saya berikan. 'N' menulis kesimpulan dan pendapat pribadinya  dalam tulisan tersebut, dan menggunakan nama saya. Ini yang menjadi keberatan saya!. Jika 'N' ingin beropini, lebih baik tidak usah mewawancarai saya sebelumnya.
Selanjutnya saya menyatakan 'N' telah melanggar komitmen, karena saya sudah meminta agar nama saya tidak dicantumkan dalam tulisan.
Atas dua hal ini, 'N' selaku redaktur Tempo, belakangan sudah mengakui kesalahannya, ketika saya konfirmasi melalui telpon. Dengan alasan, dia salah dengar.
Adalah sangat tidak profesional dan sangat disayangkan ketika salah dengar dijadikan alasan, untuk sebuah majalah seperti Tempo. Apalagi sebelumnya saya berkali kali ingatkan, "ini adalah off the record", saya tidak mau nama saya dicantumkan.

====

Demikian isi surat yang saya layangkan.  Nama redaktur sengaja tidak saya cantumkan. Tempo tidak menuliskan nama redakturnya adalah demi menjaga kredibilitas redaktur ataupun ini sudah menjadi kebijakan redaksi, apapun itu saya hargai.
Tapi yang jelas, melalui surat pembaca ini saya ingin menyampaikan kekecewaan atas kutipan yang disampaikan yang tidak benar dan komitmen yang tidak ditepati.

Sekian terimakasih

Tuesday, 1 January 2013

Meretas Mimpi Tahun Yang Baru

Semilir angin membelai malam dan aku..
Tahun berganti, waktu berlalu.
Mereka tertawa, menangis, bahagia.
Diujung sana ada yang lara berselimut duka.
Siapa peduli?
Ini padang, bung.
Langkahmu sendiri langkah sendiri.
Mungkin seiring, mungkin bersebrangan.
Meski tatap kadang bersirobok, tapi hati berpunggungan.



Dilepas senyum  selega  jelaga. Menari tangan dan kaki. Hitung mundur sudah berlalu. Apa didepan mata? Masa lalu yang tertinggal? Masa depan yang tak bertitik terang. Meraba raba merintih tertatih. Siapa peduli?

Aku berkalung dendam, kau berkalung pilu, dia berkalung cinta. Mereka apa? Tertawa menatap, senyum tapi mengutuk. 

Manusia memang hidup. Tapi ingat, yang hidup berbentuk dari benci dendam cinta dan duka.

Aku pun bingung.. Tenang sajalah.
 

Friday, 2 November 2012

One Man One Vote and U.S election

The United State of America, a well known democratic country. Known because of the freedom of speech. This year is a big year for the U.S, where election being held. Talking about presidential election, a question pop up in my mind. Would it be different with Indonesia's election? Or would it be the same? One big question answered. The election system is totally different. Out of my imagination. A bit complicated if I can tell. In Indonesia with do "one man one vote". Everyone use their right to choose their own leader, directly. It happens in any races, The president, governor, house of representative and local head of administration. Compare to U.S election , Indonesian voters faced with a paper within candidates pictures ( only the president ). While in U.S, every voter faced with several names that they might not know each of them personally. Because, you are not only elect your president, but as well as governor, member of house representative, state secretary, the judge and so on. One who want to reach the victory have to won the electoral college. Then the popular vote not going to determine who the president is. It happened on US 2000 election. Were Gore candidate from democrat won the popular vote, but lost the electoral college. Many polling predict this history repeated, but in the opposite. Obama predicted going to win the electoral, while Romney gain more popular vote. This is a hundred percent different election system compare to Indonesia. Where we, Indonesian, decide our own president with one man one vote.

Thursday, 14 June 2012

Jiwa dan kalbu sudah terlanjur milikmu

Sayang.. ampuni aku yang sekadar gelak tawa, jenaka yang tak memiliki, harap yang temaram, pelipur tanpa kuasa.. sungguh aku tak berujung denganmu, kamu jelmaan asa, muara keindahan, sudut batin yang sempurna menjawab semua,  cemas sekejap sirna. Selamanya memang bukan masa yg aku punya, tapi kemarin, kini, dan saat demi saat nanti.. Aku mau berusaha yang terbaik.. Tuk melimpah senyumku.. Tuk ada diantara jari jemarimu.. Tuk menyapa dari segala alur kemungkinan.. Tuk mematri bahagiamu tanpa pasti namun percaya.. kelak kita selalu bersisian.. Aku tak mau kehilangan.. jiwa dan kalbu ini sudah terlanjur kau punya.. by:belahanjiwa-jawabansemuagundah

Cinta rahasia

Kembali merasakan cinta rahasia. Sepertinya cinta untukku hanya sebatas cinta rahasia. Di saat rahasia, aku benar benar bisa mencintai dan rasa nya tak berlebihan kalau aku bilang, aku juga dicintai. Luka masa lalu hilang sudah, jauh ,hilang. Tapi seperti kata yang selalu berulang, jatuh cinta sama dengan membuka kesempatan hati untuk dilukai,lagi. Ini sedikit mendekati luka. Yang terjadi sekarang, hatiku telah ditelanjangi. Maka kesempatan dilukai semakin membesar. Tapi aku rela, selama yang melukai hatiku adalah engkau sipemilik hati. Engkau yang aku cinta tanpa syarat. Aku rela kau bahagia dengannya. Jangan ragu dan takut ungkapkan bahagiamu itu. Tak usah khawatirkan aku. Aku memang cinta tanpa syarat yang dihadirkan Tuhan untuk mu. Berbahagialah sayang. Aku rela menjadi keset disaat kakimu kumuh. Kumuh oleh darah luka yang ditorehkan olehnya. Aku rela membasuh luka hatimu karena nya ,dengan cintaku. Karena aku tanpa syarat untukmu. Bahagialah dengan nya sayang. Aku selalu ada disekitarmu, di tiap hela nafasmu, ditiap denyut darah kejantungmu, menyaksikan dan menemanimu bahagia. Hatiku? Tak mengapa sayang. Sudah kubilang aku tanpa syarat. Hatiku yang serpihan ini telah kugadai, saat pertamakali,aku ucapkan cinta padamu. Bahagialah saja sayang. Atau amanlah saja. Tak ada keberanian diantara kita untuk mengakui cinta rahasia. Biar kutelan getir yang sudah aku pilih dari semula. Getir berhias bahagia, saat melihat kau bahagia.

Maafkan aku bila waktu itu tiba

hai sabtu,aku masih menunggu. pagi tak kunjung menyapa. langitpun bungkam dengan kelamnya, sambil melepas satu per satu butiran hujan. kita memang terpisah ruang dan waktu,tapi hati yang berdampingan adalah keniscayaan. seperti riak ombak dilautan,tak henti meski malam datang. sabtu, mengapa hujan mu tak seperti biasa? mengapa kini dinginmu menusuk hingga ke tulang? mengapa anginmu membekukan hati? tapi aku tak pernah habis akal. sudut hatiku masih menyimpan setitik bara, bara yang kujaga untuk menghangatkan,saat dingin mu tak seperti biasa. bara yg kian meredup namun tetap menghangatkan. tapi sabtu, bara ini meski pelan,membakar sudut hati. menyisakan luka. jadi sabtu, jangan salahkan jika suatu saat aku harus memilih, beku karena dinginmu atau terbakar karena bara ku. dua dua nya tak menyenangkan sabtu. maafkan aku bila waktu itu tiba

Sunday, 15 April 2012

Jalan menuju hati

Kau..
Bukan raja memang.
Bukan penguasa.
Bukan yang bergelimangan segala hal.
Pelan pelang kau kumpulkan serpihan itu, dengan sabar kau titi dan tata satu persatu.
Merekapun sepertinya tak mau lakukan itu
Tapi kau, berkeringat berairmata merajutnya untukku tanpa hiraukan detik waktu.



Bagiku kau mulia.
Pelan pelan kau tutup luka menganga, pelan pelan kau buka hati yang terpatri.
Tak sedikit kata terucap yang melukaimu, tapi kau seolah berlalu dan tetap membagi senyum termanis untuk ku.
Aku kini bukan aku dulu. Aku kini mencoba menimba positif dari negatifku dulu.
Kau pelan pelan bimbing tanganku untuk belajar menggenggam kepercayaan.
Kepercayaan yang telah lama tak lagi ku sentuh.
Kepercayaan, yang aku sendiri, sulit melafalkannya.
Kau memang belum merebut cinta yang terkubur ribuan kilo di lubuk hati atau dasa laut.
Tapi kau tau jalan menuju kesana.
Dan aku entah mengapa, sedikit rela memberikan arahnya.

Terimakasih untuk cintamu yang tak bersyarat

aku merajut kasih

Hai sayang,mata ini merindukan setiap desahan lembut nafasmu.
Nafas ketika kau terjaga diiringi cahaya mentari.
Sayang,aku juga merindukan bisikanmu. Bisakan saat mata terpejam, dan hati mendengarkan.



Duhai sayang, padamu aku temukan tentram, padamu juga aku temukan gulana.
Gulana membayangkan harus melepasmu.
Sayang, setiap langkah ku ingin bergandengan tangan denganmu.
Membelah dunia kita berdua,menantang angin dan ombak kita bersama.
Sayang, denganmu gentar seolah tak pernah ku kenal.
Sayang, denganmu mentari seolah tak pernah terbagi diantara dua sisi bumi.
Sayang, aku ingin terus begini saja, terlelap dalam pelukanmu.
Sayang, aku masih haus kasihmu,meski tenggelam dilautanmu.
Sayang, ini aku yang tak pernah terpuaskan karena cinta luar biasa yg tak terbendung.


Aku malaikat dan iblis, akulah tuan dan hamba

Duhai engkau.. Aku jatuh cinta pada setiap tulisanmu.
Aku menatap urut...
Aku membaca urut, satu per satu kata yang terangkai dalam untaian kalimat.
Tak satu makian yang terlontar darimu , meski hati kadang terluka, meski hati tak selamanya tersenyum.

Duhai engkau, padamu aku belajar menata rasa dan hati. Menata emosi dan akal. Menjadi yang rasional dari emosional.
Duhai engkau, kau memang bukan kekasih hati yang aku cinta menyeluruh, karena kita tidak dituliskan untuk bersama.
Aku pengagummu saja, aku mengagumi dari kejauhan saja.
Setiap kata yang kau goreskan adalah penyejuk jiwa, pelebur lara, menentramkan rasa.

Aku memujamu bagaikan malaikat pada Tuhannya, pun iblis pasa penciptanya.
Aku memujamu bagai pelayan pada tuannya.
Aku menginginkanmau bagai tuan menitah hambanya.

Aku bisa menjadi malaikat pun setan.
Aku bisa menjadi air pun api.
Aku menjadi apapun yang bertentangan di dunia ini, demi bisa memandangmu, tanpa mententuh seujung kukupun.
Aku adalah dahaga di tengah sahara, yang hanya menikmati fatamorgana. Itulah aku padamu. Tapi dahaga tak pernah bisa membunuh yang merasakannya bukan?
Dahaga hanya menyiksa, itu pula yang aku rasakan, saat hanya bisa mengagumimu.
Itupun akan kutebus,demi bisa menjadi pengagum mu

Angel and demon, master and servant, both i am for you.










Wednesday, 4 April 2012

Cinta dua hati, satu rasa

Dia memandangi wajah yang terpampang di kertas itu. Tertegun, menatap lama. Dalam, sambil sesekali menarik nafas panjang.
Dua menit, tiga menit, sesekali melihat ke belakang, kiri dan kanan. Was was, jika kekasihnya memperhatikan gerak geriknya.

Hampir setiap malam sebelum tidur, satu minggu terakhir kondisi ini terjadi. Sedikit dingin, tanpa kata.
Kemudian, seperti biasa, lampu dimatikan. Dan pasangan itupun terlelap.
Begitu seterusnya dari hari ke hari.
******
situasi yang sama juga terjadi di sudut kamar, di sudut kota yang sama.
Sepasang kekasih tidur saling rangkul. Naas mereka silih berganri menimpali. Mereka memang tidur di ranjang yang sama . Tpi dengan pikiran yg masing masing melayang jauh, dan mimpi yang berbeda.


Pagi menjelang. Di sudut kamar pertama, satu dari sepasang kekasih itu, berbicara di ujung telepon. " sayang, aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi. Ak tidak bisa hidup berpura pura mencintainya, terus menerus seperti ini.."

Suara hangat di ujung telepon itu, juga mengungkap kan hal yg sama. "aku juga sayang. Kami sepanjang malam, tidur berpelukkan, tapi hampa. Pikiran ku tak bisa lepas dari mu."

***
Aku ingin segera mengatakan pada nya, bahwa aku tak pernah mencintainya. Dan pun tau itu. Tapi aku ak tak tega harus melihat wajah cantik berurai air mata." lanjut suara di sudut kamar itu.

Sayang, aku juga. Akupun tak tahu kalimat apa yang harus aku sampaikan pada orang tuanya, kalau aku mengembalikannya sekarang. Dulu saat aku meminangnya, kau belum ada.






Tuesday, 27 December 2011

Januari, tanggal 1.

Cinta itu, seru diawal. Dimasa kamu mengejarnya, pasti terasa luar biasa.
Cinta itu, seumur jagung, rasanya bulan madu, indah setiap detik.
Cinta itu, 6 bulan di awal belum terasa bosan, karena semua manis terlihat.


Cinta itu.... Iya, yang aku tahu hanya sampai disitu.
Karena aku tak pernah membiarkan cintaku lebih dari 6 bulan.
Karena kata mereka, lebih dari itu, hanyalah basa basi dan saling memenuhi kewajiban.
Aku memilih tidak mau membuktikan kata mereka.
Jadi yang aku tau cinta itu hanya sampai Juni..
Okay, 2 jam lagi bulan Juli. Aku mau berburu cinta baru dulu.
**


Aku Juga Mencintaimu

Hujan rintik rintik saat ia menunggunya di loby kantor itu. Sambil sesekali menghisap dalam dalam rokok di sela jari, ia melempar senyuman paling manis, untuk sang kekasih, yang sedang bekerja dari box kaca, cuap cuap sendiri.


Kekasihnya penyiar kondang sebuah radio, ternama dikota mereka.
Tepat pukul sembilan malam, hujan semakin deras, sang kekasih selesai bertugas.

"Pak Djusman, saya pulang dulu ya. Ini uang untuk makan malam, kalau lapar", gadis cantik itu meninggalkan beberapa lembar untuk satpam kantor yang sudah tua.
Kemudian berlalu menuju sesosok di depan loby, dengan kemeja yang sudah basah kuyup.

Kedua nya menembus hujan deras, berpegangan tangan, hujan seolah tak pernah turun.
Pak Djusman tersenyum melihat polah kedua remaja itu.
**
Setiap kali ia mengatakan betapa besar cinta nya pada sang gadis, setiap kali itu juga bibir manis itu hanya memberikan senyum, tanpa kata.
**
Berulang kali potongan cerita itu muncul. Aku berusaha keras mengingat satu per satu perisitiwa indah itu. Tapi semakin keras aku berusaha, semakin sedikit yang ku ingat. Semakin besar rasa sesal terbersit.

**
Kini berganti, aku yang mengunjungi tempat itu. Tak kulihat pemuda itu menunggu kekasihnya seperti biasanya. Tak ada juga gadis manis itu cuap cuap dibalik box kaca.

Tapi hari itu loby kantor itu ramai sekali. Dan penuh karangan bunga.
Bunga yang biasa dikirim untuk ucapan belasungkawa.
Aku terkejut, ada namaku di karangan bunga itu.
Aku, mati? Aku sudah mati?
Bagaimana mungkin aku mati jika dalam 3 tahun ia mencintaiku,tapi tanpa ada satu ucapan bahwa aku mencintainya sama sekali. Rasa sesal luar biasa muncul.
**
Bagaimana aku mati? Aku bertanya pada malaikat.
**
Dihari terakhir ia mengatakan cinta padamu, adalah hari terakhirnya hidup.
**
Kamu tahu kapan jadwalnya harus ke dokter dan memeriksakan penyakitnya?
Sesaat setelah mengantarmu bekerja.
**
Kamu tahu kapan ia harus minum obatnya?
Sesaat setelah memastikan kau aman sampai dirumah.
**
Kamu tau obat apa yang membuatnya bertahan hidup?
Kebahagiaanmu dan saat kau tersenyum.
**
Tapi coba kau ingat ingat,kapan kau benar benar mengatakan kau mencintainya?
**
Belum, belum pernah kukatakan.
**
Masih belum ingat ,bagaimana kau mati?
**
Belum.
**
Aku ceritakan, atau kau ingat sendiri?
**
........
**
Baiklah. Dihari kematiannya, kau baru tau semua tentang dirinya dan penyakitnya, setelah 3 tahun.
Kau menyesal, tak sempat ungkapkan bahwa kau juga mencintainya.
Dihari itu juga,kau putuskan untuk mati. Dan menyampaikan cintamu padanya.
**
Aku terdiam. Dikejutkan tangan dingin menyentuh bahuku. Tangan yang aku kenal. Tangannya.
Akhirnya, "aku juga mencintaimu".
Apa ini yang disebut Cinta sampai mati?



dwi anggia and the world in the mirror: Kertas Merah Muda

dwi anggia and the world in the mirror: Kertas Merah Muda: Waktu,waktu hari ini berjalan sangat lambat. Begitu lambatnya,sehingga aku bisa menghabiskan satu buku setebal, setipis 155 halaman, hanya d...

Kertas Merah Muda

Waktu,waktu hari ini berjalan sangat lambat. Begitu lambatnya,sehingga aku bisa menghabiskan satu buku setebal, setipis 155 halaman, hanya dalam 1 jam lebih,menuju 2 jam.




Membaca tulisanmu, mengingatkan aku pada cinta pertamaku. Saat itu kami masih berseragam putih biru.

Ia setengah berlari menghampiriku,memegang secarik kertas.
"I love you", itu tulisan yang tertera disana.
Dengan wajah tersipu, ia segera meninggalkanku, menuju Icad, temannya yang berbadan bongsor.

Aku masih terdiam, di ujung gerbang sekolah, menghadap hamparan rumput lapangan bola milik sekolah. Hari itu aku berbunga, cinta pertama luar biasa.
**
"Kriiinggggg" bel tanda pelajaran pertama dimulai. Sambil menaruh tas hijau kulit bermerek contempo, aku menaruh buku pelajaran di laci meja.
Saat itu juga tanganku menyentuh sebentuk amplop halus.
Segera kutarik tanganku, dan seketika wangi menempel dijariku.

Penasaran sambil mendongak ke laci meja sekolah, aku merogoh laci itu.

Tak salah, sebuah amplop berwarna merah hati, bertuliskan namaku, dengan tinta merah.
Berdegup kencang, aku membuka amplop itu. Selembar kertas wangi, dan secarik kain.
Ah bukan kain, itu sapu tangan merah muda, dengan jahitan tangan namaku di salah satu sudutnya.
Manis.
Tak sabar kubaca surat itu.
" Dear, you ..."
Isinya layaknya orang tengah jatuh cinta. Bedanya,ini surat cinta anak seragam biru putih, sehingga ada gambar mobil di bawahnya, dengan plat nomor, singkatan nama nya dan namaku.
"Kriiingg..." Bel tanda berakhirnya pelajaran hari ini. Secarik kertas dengan balasan manis, sudah kutinggalkan disudut laci sekolah...

Aku yang kecil,mulai mengenal cinta.
**

Keesokan harinya, sebelum meletakkan buku pelajaran di dalam laci, aku memeriksa nya terlebih dahulu.
Hmmm.. Amplop selanjutnya. Selain surat, ada sebuah kertas bertuliskan namaku yang dilaminating. Warnanya merah muda,lagi.
Dari sini aku mengerti mungkin warna merah muda, adalah warna orang yang sedang jatuh cinta.

Meski setelah dewasa,tidak demikian yang aku dapati.
**
Hari demi hari, semua surat itu, menumpuk di dalam sebuah plastik, di ujung bawah tempat tidurku. Rapi dan tetap wangi.

Satu hari, kami berjalan beriringan, searah, tanpa kata. Hanya saling senyum, melirik dan tertunduk.
Jalan itu terasa sangat pendek jika aku berjalan beriringan dengannya.
Kami beriringan, tapi dipisahkan dua lajur jalan. Ya beriringan disisi jalan yang berbeda.
Itulah cinta murni yang mungkin pernah aku rasakan.
Sambil menarik nafas panjang dan tersenyum, aku mengingat semua.

Dan hari ini, aku kembali menerima surat darinya. Deg deg deg.. Rasa itu kembali ada, muncul, rasa yang aku punya bertahun tahun lalu.
Kubuka, kertas merah muda, kertas yang katanya untuk orang kasmaran. Ada namanya, alamat, dan tanggal yang tertera.
Ia memang tengah kasmaran, dan akan menikah. Aku membaca undangannya.
Tanpa suara, hanya rasa sesak didada.
**
Undangannya kuselipkan di dalam bukumu.

Saturday, 24 December 2011

Gumaman hari ini (suara hati)

Kata orang bijak, dibalik hai yang beku, pasti ada harapan yang tersimpan. Entah, orang bijakmana yang bilang itu. Kata saya, hati yang beku tak butuh harapan. Tapi butuh hati lain yang menghangatkan. Itu saja.





sampai pada suatu krpetika, saya kembali bermin dengan yang namanya hati. Hei, hati, apa kabarmu.
Lam terasa tak memakai mu. Hahahahahaa... Yayayayaa.. U knowlah.. Sekarang sedikit terbersit menggunakan hati. Maklum masih malu malu, dan ragu. Dan hati hati tepatnya. Karena luka lama saja masih berbekas. Sebenarnya tak ada masalah dengan pengguna hati yang ini. Hanya saja ada beberapa hal yang menjadi catatan hati. Dia mungkin baik, tapi apa saya bisa bahagia dengannya? Karena pendakian ini melelahkan, tentu saja saya butuh tempatvuntuk berteduh. Tapi bagaimana bisa berteduh, padanya yang juga belajar mendaki. Hari ini agak menyedihkan. Kemarin membahagiakan. Walau kemarin sempat tergurat ragu atas ihklasnya. Tapi terjawab. Hari ini menyedihkan, karena dia memposisikan diri, sama seperti mereka yang selama ini bergantung padaku. Lalu aku pada siapa? Jika untuk masalah sepele saja dia bergantung pada ku, lalu aku akan bergantung pada siapa? Bisa dia? Sanggup dia? Ini muncul tiba tiba seketika saja.
Ini yang dibilang orang, karena nila setitik, rusak susu sebelahnya, eh sebelanga :) .
Mungkin diantidak bermaksud apa. Hanya minta tolong, tapi aku yang terlalu kaku, menilainya lain. Inilah hasil jika terlalu skeptis dalam hidup. Kalau dia bilang, negatif thinking.
Entah ya, saya mesti bagaimana. Mungkin inilah hasil kalau anak perempuan terlalu berkhayal bahwa mr.perfecto itu ada. Hahahahaa..

Suatu hari dinegeri khayangan


Ternyata sama saja. Kurang sensitif. Dia baru saja meneteskan air mata karena permasalahan keluarganya. Tapi pacarnya justru dengan tidak sensitifnya minta bantuan yang sama. Saya tidak menyalahkan dia, karena secara psikologis dia sudah lelah terbebani. Seharusnya pacarnya mengerti itu. Bukan nomimal yang dipermasalahkan. Tapi karena kekurang sensitifan saja.
Ini mungkin kasus yang berbeda dengan perselisihan mereka sebelumnya.
Mungkin saja kalau pacarnya tidak minta tolong dihari yang sama dengan ia mentitikan air mata karena maslah yang sama, mungkin ini tak akan menjadi soal, tak menjadi masalah baginya.

Aku haus, dunia berangsur dingin. Mungkin aku harus pergi bersembunyi. Khayangan atau turun ke bumi?

Friday, 25 November 2011

Indonesia masa kini I

Jaksa menghamili narapidana. Jaksa terima suap 2,5 miliar. Hakim minta penari telanjang. Pengacara mengaku hitam dan abu abu, bukan putih. Polisi menembaki pengunjukrasa. Anggota dewan masuk bui. Mantan menteri antre untuk masuk bui.




Pejabat bersumpah palsu memberi kesaksian. Kekayaan alam di eksploitasi korporasi asing. Orang miskin dilarang sakit.
Dipapua lumbung emas dan tembaga, masyarakat dibiarkan bodoh. pendidikan dibiarkan mahal, edukasi menjadi barang mewah, kesehatan menjadi barang mewah. Orang miskin pasti nodoh, orang miskin pasti sakit.
Wakil rakyat (katanya mewakili rakyat) , mobil mewah bukan hal aneh. Dalih butuh mengejarkan waktu dan aman, maka harus pake mobil bagus (nudirman munir di aki malam).
Kalau sudah kaya dari lahir tak hilangkan hak untuk hidup mewah (memang tak ad larangan) tapi simpati yang diminta rakyat. Rakyat tak harapkan kucuran uang, dari wakil nya. Hanya butuh haknya diperjuangkan.
Kemana ? Beratkah?

Kaca bukan baja







Baja

Seperti baja terlihat dari luar. Ia datang ke tempat yang sesungguhnya tak pernah ia kenal sebelumnya. Lamunannya pun terbang ke masa lalu. Masa kecil yang samar samar.
"ibu..apakah anak anda dirumah sering diomeli?", tanya guru kelas 1SD  adabiah itu. 
" Tidak, ada apa? mengapa?", si ibu muda kembali bertanya. 
"ah, begitu". Lanjut si ibu guru.
"anak anda tidak pernah bergaul dan bermain dengan teman temannya. Ia hanya memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya."
" ketika ada yang terjatuh, ia hanya tersenyum."
" Hanya memperhatikan saja, tanpa mencoba untuk berinteraksi".

Lamunan itu berlalu. Ternyata memang sifatnya seperti itu. Bukannya tidak bergaul. Ia hanya orang yang penyindiri, diam, mengamati dan sedikit sensitif.
Sikap yang sulit bagi seseorang untuk bisa bertahan dilingkungannya yang keras. Yang penuh sikut menyikut, tusuk dari belakang, gunting dalam lipatan, serigala berbulu domba. Dan beragam ungkapan lagi untuk mereka yang tak tulus. 

" Hei, ini dunia, bukan surga", ia berkata.
" Didunia, hidup memang tak adil. So face it. Get used to it".




Setelah berbicara pada dirinya sendiri, ia pun tersadar, ia berada di salah satu spot ruangan yang ramai. Berisik, penuh suara dan tawa, tapi entah mengapa ja merasa sendiri. Alone. Hanya sendiri dikeramaian itu.
Ia pun tak tahu, what went wrong..

Air matanya tak menitik, tidak saat itu. Tapi ia tahu persis hatinyalah yang menangis.
Pun demikian, ia berusaha tegar. Tak perlu berusaha terlihat tegarpun sebenarnya wajah nya sudah terlihat keras. Sekeras kehidupan yang sudah dilaluinya.
Mungkiin itu juga yang membuat orang urung dekat dengannya.
Ah seandainya mereka tahu, selembut apa dan serapuh apa ia didalamnya.

Pasti mereka tak mengira ia baja, melainkah hanya sebilah kaca yang rentan dan mudah pecah, hancur berkeping..








Tuesday, 8 November 2011

Haba get?

Long time no write...apa kabar temans...apa ya yang harus tertulis disini? Tak ada yang baru.. Apa yang baru.. Di hati ada yang baru..



Langkah baru yang jelas.. Dan hp gue baru aja rusak.. Satu kesamber petir.. Satu ga tau kenapa tiba tiba ngereset sendiri...
Now the athmosphere is very different. Feels like running, sprint everyday..
Tired? Yeah,sure i do. Happier? A bit.. Change? Na a .. A bit, i did...
Oya ..semsngat baru itu pasti ada. Tapi iNget juga, selalu ada manusia manusia baru yang suka menghancurkan semangat baru.. So u better be ready with it.
My mind flown into two and half years ago.. It was a nice, heritage n old place. Yes me in my dream city.


Wednesday, 18 May 2011

Terimakasih

Ketakutan apa yang kurasakan ini Tuhan?
Terlalu takut mencintai.
Karena perih itu masih tertanam.



Terulang lagi? Please jangan.
Lebih baik tak usah mencintai, agar tak terluka lagi.
Benar memang, ada resiko terhadap semua tindakan yang kita lakukan. Termasuk ketika menyayangi seseorang. 
Lebih baik tak usah mengambil resiko itu bukan? 
Jika tak ingin terluka?
Itu yang aku pilih. 
Kembali menutup rapat.
Aku dan hati belum siap.
Meski sudah terlanjur menyayangi.

Terimakasih


Terimakasih...