Saturday, 8 February 2014

Prolog



Meledak... Rasanya meledak. Ingin meledak. Itu yang kurasakan. Melihat air mata berderai dari mata indah itu. Mata yang sering kuciumi kala lelah terlelap disamping nya.
Malam ini serasa seluruh beban bumi ada di dadaku. Aku melangkah ke rumah dengan berat hati. Sambil melihatnya menghilang dibalik dinding itu.

Tuesday, 21 January 2014

Surat dari pengungsi Sinabung untuk Bu Ani Yudhoyono


Hari ini lumayan lelah. Setibanya di rumah, saya langsung membuka laptop, sambil memantau informasi yang beredar di sejumlah media. Kebetulan nemulah ini surat terbuka...Baca sebentar yuk...
 
 20/01/2014 07:54:39
Surat Terbuka

Instagram untuk Ani Yudhoyono dari Vita Sinaga-Hutagalung Korban Sinabung

Foto: tribunnews
Yth. Ibu Ani Yudhoyono, nama sahaya Vita Sinaga-Hutagalung, satu dari puluhan ribu korban letusan Gunung Sinabung yang letaknya di Sumatera, bukan di Jogjakarta atau Magelang. Sahaya ingin sekali menuliskan dan melukiskan Sinabung lewat jepreten tustel seperti Ibu Ani lewat telegram, eh, Instagram. Atau melukiskan keindahan derita Sinabung dengan mengabadikan jepretan kamera dan menampilkan di Instagram. Namun, apa daya. Kami para pengungsi tak memiliki apa-apa lagi.
Ibu Ani yang cantik jelita bulat mukanya, surat ini sahaya tuliskan menjelang kedatangan Bapak Susilo Bambang Yudhonono - suami dan presiden Ibu Ani ke Tanah Karo. Sahaya dengar dan yakin Ibu Ani sangat berperan menentukan kebijakan negara Indonesia, sama halnya para koruptor yang selalu disetujui dan didukung oleh para isteri mereka. Sahaya dengar dari wartawan yang selalu datang ke mari selama enam bulan ini, bahwa Ibu Ani aktif sekali di dunia maya ya Ibu Ani. Kata para wartawan Ibu Ani hobby sekali main Instagram, Twitter dan Facebook.

Ibu Ani yang cantik bulat menarik hati, katanya Ibu bahkan senang sekali mengabadikan apapun. Bahkan bisa juga Ibu Ani ribet mengurus Instagram dan main tustel. Itu adalah aktivitas sangat positif sebagai Ibu Negara. Aktivitas Ibu Ani bermanfaat untuk bangsa dan negara Indonesia. Di situlah kedekatan rakyat sampah jelata dengan para pejabat dan istri pejabat tinggi yang menjulang ke langit ketujuh dapat terjembatani.

Ibu Ani, dengan aktivitas Ibu Ani di Istagram, maka kami sebagai korban Gunung Berapi Sinabung telah tertolong. Dengan melihat kebahagiaan Ibu Ani, Anissa Pohan - yang menjuluki Ibu Ani sebagai mertua terbaik di dunia dan akhirat, cucu-cucu yang cantik dan gagah menarik, Ibas yang berenang dengan baju mau menyelam padahal di kolam renang dangkal, lalu ke pantai dengan memakai batik resmi, itu pertunjukan yang mampu memberikan kebahagiaan buat kami.

Ibu Ani, kami para pengungsi tak membutuhkan apapun selain gambar-gambar di Instagram. Kami tak butuh tanah pertanian yang telah rusak untuk direhabilitasi. Kami tak butuh makanan. Kami tak butuh obat-obatan. Kami tak butuh selimut. Kami tak butuh pembalut wanita. Kami tak butuh pakaian. Kami tak butuh tempat tinggal karena tempat tinggal kami ya di 59 tempat pengungsian selama enam bulan ini. Kami pun tak butuh apa-apa selain melihat dan menonton foto-foto kebahagiaan Ibu Ani sekeluarga melalui Instagram. Instagram Ibu Ani adalah kebahagiaan kami.

Ibu Ani yang cantik jelita dengan muka bulat sempurna. Dari muka Ibu kami tahu Ibu adalah orang paling baik di Bumi, Langit dan Surga nanti. Untuk itu, kami sebagai warga negara merasa puas dan senang berbagi melihat kebahagiaan keluarga Ibu Ani. Sementara di pengungsian ini, kami selama enam bulan, merasakan kurang makan, kurang tidur, kurang nyaman dan kurang kebahagiaan - namun sekali lagi, melihat kebahagiaan keluarga Presiden RI, kami sudah kenyang dan berbahagia. Sudah selayaknya sahaya dan rakyat melayani pejabat dan orang besar serta penguasa. Maka, biarkanlah kami di Tanah Karo dan Sinabung menikmati pengorbanan sebagai hamba kepada penguasa.

Ibu Ani yang terhormat, bolehlah sahaya pesankan kepada Ibu agar memberi tahu Bapak Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhyono, suami Ibu yang besar badannya itu, untuk (1) jangan menetapkan bencana Sinabung sebagai bencana nasional, agar kami tak mendapatkan bantuan berskala nasional, (2) jangan kami diberi bantuan apapun karena kami bangsa Indonesia dan Batak akan pergi ke saudara-saudara kami untuk mencari kehidupan - itu yang banyak diperhatikan bahwa bangsa Batak memiliki kekuatan sendiri, (3) biarkan kami tetap di pengungsiaan selama-lamanya, (4) jangan Ibu Ani hentikan kegiatan main tustel, kamera standard professional seharga Rp 250 juta, untuk menampilkan foto-foto Ibu Ani, Annisa Pohan - anak koruptor bernama Aulia Pohan - dan juga cucu-cucu dan anak-anak tercinta, karena foto-foto Instagram Ibu Ani adalah kebahagiaan bagi kami semua: warga pengungsi yang tak memiliki apa-apa selain air mata.

Ibu Ani yang terhormat, demikian surat Instagram kami. Karena kami tak tahu Istagram itu apa maka mohon maaf yang sahaya tahu adalah telegram di kampung kami dulu. Sahaya pikir dengan menulis Instagram ini, yakni istagram tanpa foto karena tak memiliki tustel, maka pesan yang sahaya sampaikan rasanya sampai. Kami warga korban gunung berapi hanya membutuhkan gambar-gambar yang indah hasil jepretan Ibu Ani di Instagram. Kami di pengungisan sudah puas dan bahagia meskipun kami sakit, kurang makan, kurang pakain, tak memiliki tempat bekerja karena pertanian kami hancur, anak-anak mahasiswa kami sebanyak 25,000 terancam tak bisa bayar uang kuliah dan makan, namun itu semua tak penting. Yang penting kami menonton foto-foto Instagram Ibu Ani sekeluarga yang berbahagia. Itulah rentetan nestapa duka derita sengsara kami selama enam bulan letusan Gunung Sinabung paling dalam yang Ibu tak pernah pikirkan - sama dengan suamimu dan para menteri yang sibuk nyaleg lagi.

Salam bahagia ala saya Ibu Ani Yudhoyono yang cantik jelita bulat sempurna.

Penulis : Ninoy N Karundeng

*tulisan ini dimuat di kompasiana, namun sudah diremove berikut linknya: http://m.kompasiana.com/read/detail_comment/628903/2

Thursday, 24 October 2013

Cinta seharusnya tanpa mata? hanya rasa

Sayang. Tidak mudah untuk berpaling dari mu. I feel your pain I feel the same. Disepertiga malam ini aku merindukanmu. Maaf aku harus memilih cara seperti ini. Karena belajar untuk berhenti mencintaimu tidaklah mudah. Jika diperbolehkan untuk menghabiskan sisa hidupku bersama mu, maka itu tidaklah menjadi pilihan, tapi itulah satu satunya keputusan, bukan pilihan. Karena aku tidak akan menempatkan keputusan untuk hidup bersama mu menjadi pilihan. Itu adalah keputusan, bukan pilihan.
Memalingkan mata ku pada yang lain mungkin terlihat mudah bagimu. Tapi memaksa memalingkan hatiku darimu bagai menyayat luka dileher ku sendiri.
Bagai mencabut nyawaku perlahan. Sayang, jika aku memiliki kesempatan terlahir kembali, aku akan memilih untuk terlahir menjadi dia yang kelak bisa menyandingmu.
Menyandingmu tanpa harus menerima penolakan dari semua yang bernyawa.
Menyandingmu.
Sayang.. Sayang..
Dan sayang aku tidak bisa terlahir kembali.
 Sayang aku mati melihatmu terluka, disaat kau membayangkan bahwa aku tengah berbahagia dengan yang lain.
Pernahkah kalian tahu apa rasanya jika harus membunuh cinta pada yang tercinta? Padanya yang telah kau serahkan seluruh bahagia dan air mata?
Kita tehalang aturan hidup norma dan dosa.
Padahal cinta tak seharusnya berbatas dosa dan pahala, patut atau tidak serta elok atau tak elok.

Cinta harusnya tanpa mata, tanpa bentuk, tapi hidung, hanya rasa.
Seandainya cinta hanya sebatas rasa, maka malam ini dan setiap pagi kelak, wajahmulah hal pertama yang kulihat saat membuka mata.

Sunday, 23 June 2013

Lagi Lagi Pikiran Kosong

****
Ada lobang hitam itu rasanya didadaku. Mungkin ini kata orang yang namanya dendam. Kadang aku juga merasa iri dengan teman sebangku ku. Cerita tentang makan malam keluarga.  
Tentunya dengan ayah dan ibu. 


Ayah? Benda asing apa itu?


Mungkin aku punya, tapi tidak sama seperti Ayah yang mereka miliki. Seorang ayah dalam bayanganku adalah pahlawan bagi seorang anak laki laki dan cinta pertamanya anak perempuan. Mungkin. Mungkin.
Tapi dua duanya tidak ada dalam benak ini.
Ayah, aku tidak membencimu karena tak ada disaat saat yang seharusnya kau ada.
Aku juga tidak membencimu karena harus menjalani yang aku jalani sekarang, lantaran absen mu dimasa lalu.


Ayah, aku membersihkan pusara mu hari ini dengan bahagia, karena akhirnya menemukanmu.
Kesini ternyata pikiran kosong ini membawa ku.

Aku berjalan lagi menuju mobilku. Panas luar biasa terasa. Pendingin mobil pun tak terasa.
Sambil menarik nafas, kunyalakan mesin mobil. Menunggu, kemana lagi pikiran kosong ini akan membawaku.

****

Pikiran Kosong

***
Hari ini aku terbangun dengan perasaan berkecamuk. Ada anak kecil tidur memelukku semalaman. Ini rasanya mungkin ya seorang ibu, atau bukan seperti ini?.  Tidur yang tak tenang semalaman. Tapi ada rasa dibutuhkan yang menyenangkan. Ada pula rasa melindungi yang aneh. Mungkin demikian yang dirasakan seorang ibu.
Ponakanku, bukan darah daging memang, tapi seolah ya rasanya.
Tak harus menjalani tugas pula mendidik dan membesarkan, hanya menyicipi dikala menyenangkannya seorang anak kecil. Tak mengikuti bagian yang menyebalkannya anak kecil. Mungkinkah seorang ibu merasakan seperti itu. Aku rasa tidak,

Hari semakin siang, aku beranjak dari kasur menuju kamar mandi. Malas terasa harus menuju kantor hari ini.

Tak lama aku sudah berada dibelakang stir mobil, menempuh jalan yang berbeda dari biasanya. Aku terkaget sebuah Metro Mini berhenti mendadak. Bunyi klakson panjang.
"Sial nih metro mini". Tanpa sadar, tangan ku masih di klakson mobil.
Seorang perempuan dipinggir jalan mengangkat alis. Mungkin klakson mobilku berisik.

Kupacu mobil lebih kencang, agar melewati Metro Mini sialan itu. Masih dengan pikiran menerawang, aku berhenti dilampu merah. Kini klakson mobil dibelakang ku yang mengagetkan, akupun buru buru belok kekanan.

Masih kosong pikiranku, jauh entah kemana, Mungkin sedang tak berpikir. Alam bawah sadarku membawa ke sebuah ATM.

" Selamat siang bu".
"Siang".
Ba bu ba bu.. dalam hatiku berkata, muka gw tua banget emangnya?

Lima ratus ribu cukup mungkin ya untuk pegangan hingga besok.

Aku buru buru turun tangga.

"Sudah bu?". Satpam yang sama menegur kembali. Aku balas dengan senyum kecut saja.

"Kaget gw, ibu lagi, setua apa sih muka gw". Sambil ngaca dimobil.

Dengan cepat mobil ku putar, keluar area ATM. Lima menit saja sudah berada dikantor. Turun dari mobil, panasnya luar biasa. Didalam kantor, suhunya dingin luar biasa.

"Hah kantor?....Dem, ngapain gw ke kantor. Ini kan hari minggu.

"Sebegitu kosongnya pikiran gw ya?".

Dengan pikiran kosong aku kembali ke mobil. Tarik nafas panjang, menunggu. Kemana pikiran kosong ini akan membawa ku lagi.


***

Wednesday, 19 June 2013

Aku Menjelang Senja

Aku tertunduk pada malam, berteduh pada hujan.

Menantang matahari, terlelap dalam ramai, senyap membuatku tetap terjaga.


Aku menjelang senja mengukir janji berbingkai lupa.

Lara lirih dan perih jadi perekat.

Diam, aku diam saja.

Seribu kata tertahan diam.


Daun yang jatuh mengering tak sia sia.

Aku yang jatuh hingga mati membuat gaduh, bahkan langit tak hendak mendengarkan.


Aku tertunduk pada malam, berulang kali, berteduh pada hujan.

Menantang matahari, terlelap dalam ramai, kali ini senyap karena aku tak dibumi.


Aku menjelang senja mengukir janji berbingkai lupa.

Lara lirih dan perih terurai.

Diam, aku diam saja.

Tak ada seribu kata, aku telah mati.


Daun yang jatuh mengering memang tak sia sia.

Aku yang jatuh hingga mati membuat gaduh pun tak sia sia, kali ini bukan langit yang mendengar,

Jagad raya, semesta turut berduka, melepas aku tanpa perih lara dan lirih.

Aku yang tak dibumi.


Aku yang telah lama mati.


Mati yang bukan sia sia.

Thursday, 14 March 2013

Surat Komite Etik KPK & Sprindik Anas

"Jangan takut kalau hanya dipanggil KPK. Kenapa harus takut dipanggil KPK. Takut itu kalau dipanggil Tuhan". Ini seloroh Sutan Bathoegana, diruang Make Up TvOne, Rabu 13 Maret 2013. Saat itu saya sedang persiapan untuk Program Meja Bundar, Bang Sutan kebetulan diundang di Kabar Petang. Kalimat ini keluar dari mulutnya begitu melihat saya. Memang, dua pekan lalu tepatnya Rabu 6 Maret 2013, saya memenuhi panggilan Komite Etik KPK terkait bocornya sprindik Anas Urbaningrum. Surat undangan dari KPK itu saya terima sehari sebelumnya. Selasa 5 Maret, seorang wanita dari sekretariat KPK menelpon saya dan menanyakan no.fax kantor, untuk mengirim undangan.

Apahal?. Masih tak jelas, sampai akhirnya saya terima sendiri fax dari KPK itu. Kurang lebih isinya meminta kehadiran saya ke Gedung KPK untuk mengkonfirmasi beberapa hal. Jadilah Rabu siang saya didampingi Wapemred TvOne, mendatangi gedung KPK. Tepat pukul satu, saya masuk keruang kerja salah satu pimpinan. Sudah ada didalamnya kelima anggota Komite Etik KPK serta dua orang notulen. Ada banyak detail yang tidak bisa saya sebutkan. Perbincangan siang itu sangat santai.Jauh dari yang ada dibenak saya, jika seseorang dipanggil oleh KPK. Namun enam jam itu sangat melelahkan. Saya juga harus akui sedikit menegangkan. 

Baik...kita tinggalkan perkara pemeriksaan oleh Komite Etik KPK, yang menjadi penekanan saya disini adalah mengenai substansi. Ada banyak pertanyaan yang datang ke saya, terkait pemeriksaan ini. "Kenapa lo dipanggil?. Lo bocorin sprindik? Ah..ga mungkin Anggi dipanggil, salah kali. Siapa dia?". Beragam reaksi memang. 

Saya hanya ingin menekankan, bahwa tidak ada info apapun, tidak ada bocoran surat atau draft sprindik yang salah peroleh dari internal KPK. Baik itu dari pimpinan ataupun dari pegawai KPK lainnya. Saya datang memenuhi panggilan Komite Etik KPK, menjalankan tugas sebagai warga negara yang baik,mungkin saya ada informasi atau klarifikasi yang bisa membantu penyelesaian masalah bocornya sprindik KPK. Sehingga Komite Etik bisa memperoleh informasi yang cukup untuk menghasilkan suatu putusan atau rekomendasi. Karena adalah nasib seseorang, nama baik seseorang dan kredibilitas seseorang yang dipertaruhkan disini. Sudah sewajarnya Komite Etik berhati hati dalam melakukan tugasnya. 

Saya hanya menyayangkan sejumlah pihak yang langsung menyimpulkan atau men-justifikasi bahwa dengan hadirnya saya memenuhi panggilan Komite Etik KPK, berarti saya terlibat dalam pembocoran sprindik. 

Masih ada banyak cerita yang menanti... :)
Terimakasih.

 

Tuesday, 12 March 2013

Surat Pembaca Untuk Majalah Tempo



Pengalaman buruk yang saya alami dengan Majalah Tempo. Sebelum saya tampilkan surat pembaca versi saya (yang tidak diedit Tempo), saya ingin menjelaskan sedikit kronologis munculnya surat protes saya pada majalah Tempo.
Pada Jumat 1 Maret 2013, saya ditelpon oleh redaktur Tempo, ia mengatakan akan membuat tulisan soal Anas Urbaningrum. Kebetulan saya mewawancarai Anas Urbaningrum, sebelum dan sesudah ia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Redaktur Tempo ini kemudian menanyakan bagaimana kondisi saat dikediaman AU, saat saya mewawancarai di Duren Sawit.
Redaktur tersebut kemudian mulai bertanya perihal foto / (lukisan) Kiyai Ali Maksum yang dipajang sebagai latar belakang saat saya berdialog dengan Anas. Redaktur Tempo ini kemudian bertanya, apakah disetting demikian? .
Saya menjelaskan, bahwa untuk lokasi, memang kami, pihak TvOne yang memilih, sementara properti lainnya disediakan oleh tuan rumah. Posisi foto yang ada dibelakang Anas memang sudah disediakan begitu adanya. Saat wawancara pertama dengan Anas memang ada permintaan untuk meletakan lukisan sebagai latar, karena wawancara kami lakukan diluar ruangan, didekat Pendopo.
Sementara untuk wawancara saya yang kedua kalinya dengan AU (setelah berhenti menjabat Ketum PD), tidak ada permintaan dari AU memajang lukisan Kyai Ali Maksum. 

Penjelasan saya sampaikan ke Redaktur Tempo, dan berulang kali saya sebutkan ini off the record.  Saat itu saya juga mengatakan, saya harus konfirmasi terlebih dahulu dengan pimpinan saya, apakah diperbolehkan share info seperti ini ke Tempo. Akhirnya saya diijinkan untuk menceritakan keadaan apa adanya seperti yang tertulis diatas.
Redaktur Tempo kemudian bertanya via bbm, "sudah ada kabar"?. Kemudian saya kabari, bahwa cerita ini boleh ditulis, namun saya mengingatkan kembali, bahwa saya tidak berkenan jika nama saya dicantumkan dalam tulisan Tempo.

Namun fakta yang terjadi berbeda :
 Komitmen off the record, tidak ditepati oleh pihak tempo. Tempo dengan jelas menulis   nama saya sebagai lead dari tulisan "Dari Halaman Satu Setengah". Saya langsung menghubungi redaktur yang bersangkutan, menyatakan keberatan.  Redaktur tersebut kemudian mengatakan ini adalah kesalahannya, dia salah dengar. Dia kemudian menyarankan agar saya menulis surat pembaca.

   2. Apa yang dikutip oleh Tempo, tidak sesuai dengan apa yang saya sampaikan.
     " properti itu sudah selalu disiapkan dan wajib ada", kata Dwi Anggia.
       Padahal tak satupun  pernyataan saya yang berbunyi seperti kutipan yang ditulis
      oleh Tempo.

Apa dasar Tempo menulis kalimat kutipan seolah oleh dari pernyataan saya??

Inilah kemudian yang menjadi keberatan saya, sehingga berakhir dengan protes keras yang saya tuangkan dalam surat pembaca. Yang kemudian diberi judul oleh Tempo " Keberatan Dwi Anggia ".  Surat ini kemudian diedit, meski sebelumnya saya sudah meminta agar tidak dilakukan pengeditan. Tempo mengatakan pengeditan surat lazim dilakukan tanpa mengurangi substansi. Saya kemudian meminta agar surat yang diedit, dikirim terlebih dahulu pada saya, sebelum turun cetak. Tapi tidak dilakukan juga oleh pihak Tempo.

Apa boleh buat?
Dibawah ini adalah bunyi surat saya, sebelum diedit oleh Tempo:

Surat pembaca majalah tempo

Melalui surat ini saya ingin melayangkan protes keras dan keberatan atas tulisan redaktur majalah tempo, diedisi Tempo 4-10 Maret 2013, pada tulisan yang berjudul Dari Halaman Satu Setengah.
'N menulis kalimat yang dikutip atas nama saya, Dwi Anggia Presenter TvOne, dalam kepala beritanya,  sebagai  berikut : "properti itu selalu sudah disiapkan dan wajib ada". Properti yang dimaksud adalah sarung yang digunakan Anas Urbaningrum dan lukisan KH Ali Maksum. Tampaknya Tempo hendak menunjukan "siapa Anas & dari mana dia berakar".
Faktanya adalah, saya tidak pernah mengeluarkan pernyataan itu. Sebelumnya, pada Jumat ( 1 Maret 2013), 'N' yang mengaku sebagai redaktur tempo, menghubungi saya melalui telpon, dan meminta saya menceritakan suasana dikediaman Anas Urbaningrum, dengan alasan karena saya dua kali mewawancarai Anas Urbaningrum.
'N' menanyakan perihal lukisan yang dijadikan latarbelakang saat saya mewawancarai Anas. Saya jelaskan lukisan itu hanya dipasang sekali saja dari dua wawancara yang saya lakukan.
Saya menjelaskan TvOne selaku tamu, memilih dan menentukan lokasi saat wawancara, sedangkan properti lainnya disediakan dan ditentukan tuan rumah., termasuk lukisan K.H Ali Maksum serta busana apa yang  digunakan Anas . Memang ada permintaan untuk memasang lukisan sebagai latarbelakang wawancara, tapi itu hanya satu kali pada tanggal 7 Februari 2013, sebelum AU ditetapkan sebagai tersangka. Tidak ada lukisan KH Ali Maksum dalam wawancara saya yang coda dikediaman Anas Urbaningrum.
Sangat jelas, bahwa kutipan yang ditulis 'N' sama sekali berbeda dengan pernyataan yang saya berikan. 'N' menulis kesimpulan dan pendapat pribadinya  dalam tulisan tersebut, dan menggunakan nama saya. Ini yang menjadi keberatan saya!. Jika 'N' ingin beropini, lebih baik tidak usah mewawancarai saya sebelumnya.
Selanjutnya saya menyatakan 'N' telah melanggar komitmen, karena saya sudah meminta agar nama saya tidak dicantumkan dalam tulisan.
Atas dua hal ini, 'N' selaku redaktur Tempo, belakangan sudah mengakui kesalahannya, ketika saya konfirmasi melalui telpon. Dengan alasan, dia salah dengar.
Adalah sangat tidak profesional dan sangat disayangkan ketika salah dengar dijadikan alasan, untuk sebuah majalah seperti Tempo. Apalagi sebelumnya saya berkali kali ingatkan, "ini adalah off the record", saya tidak mau nama saya dicantumkan.

====

Demikian isi surat yang saya layangkan.  Nama redaktur sengaja tidak saya cantumkan. Tempo tidak menuliskan nama redakturnya adalah demi menjaga kredibilitas redaktur ataupun ini sudah menjadi kebijakan redaksi, apapun itu saya hargai.
Tapi yang jelas, melalui surat pembaca ini saya ingin menyampaikan kekecewaan atas kutipan yang disampaikan yang tidak benar dan komitmen yang tidak ditepati.

Sekian terimakasih

Tuesday, 1 January 2013

Meretas Mimpi Tahun Yang Baru

Semilir angin membelai malam dan aku..
Tahun berganti, waktu berlalu.
Mereka tertawa, menangis, bahagia.
Diujung sana ada yang lara berselimut duka.
Siapa peduli?
Ini padang, bung.
Langkahmu sendiri langkah sendiri.
Mungkin seiring, mungkin bersebrangan.
Meski tatap kadang bersirobok, tapi hati berpunggungan.



Dilepas senyum  selega  jelaga. Menari tangan dan kaki. Hitung mundur sudah berlalu. Apa didepan mata? Masa lalu yang tertinggal? Masa depan yang tak bertitik terang. Meraba raba merintih tertatih. Siapa peduli?

Aku berkalung dendam, kau berkalung pilu, dia berkalung cinta. Mereka apa? Tertawa menatap, senyum tapi mengutuk. 

Manusia memang hidup. Tapi ingat, yang hidup berbentuk dari benci dendam cinta dan duka.

Aku pun bingung.. Tenang sajalah.
 

Friday, 2 November 2012

One Man One Vote and U.S election

The United State of America, a well known democratic country. Known because of the freedom of speech. This year is a big year for the U.S, where election being held. Talking about presidential election, a question pop up in my mind. Would it be different with Indonesia's election? Or would it be the same? One big question answered. The election system is totally different. Out of my imagination. A bit complicated if I can tell. In Indonesia with do "one man one vote". Everyone use their right to choose their own leader, directly. It happens in any races, The president, governor, house of representative and local head of administration. Compare to U.S election , Indonesian voters faced with a paper within candidates pictures ( only the president ). While in U.S, every voter faced with several names that they might not know each of them personally. Because, you are not only elect your president, but as well as governor, member of house representative, state secretary, the judge and so on. One who want to reach the victory have to won the electoral college. Then the popular vote not going to determine who the president is. It happened on US 2000 election. Were Gore candidate from democrat won the popular vote, but lost the electoral college. Many polling predict this history repeated, but in the opposite. Obama predicted going to win the electoral, while Romney gain more popular vote. This is a hundred percent different election system compare to Indonesia. Where we, Indonesian, decide our own president with one man one vote.

Thursday, 14 June 2012

Jiwa dan kalbu sudah terlanjur milikmu

Sayang.. ampuni aku yang sekadar gelak tawa, jenaka yang tak memiliki, harap yang temaram, pelipur tanpa kuasa.. sungguh aku tak berujung denganmu, kamu jelmaan asa, muara keindahan, sudut batin yang sempurna menjawab semua,  cemas sekejap sirna. Selamanya memang bukan masa yg aku punya, tapi kemarin, kini, dan saat demi saat nanti.. Aku mau berusaha yang terbaik.. Tuk melimpah senyumku.. Tuk ada diantara jari jemarimu.. Tuk menyapa dari segala alur kemungkinan.. Tuk mematri bahagiamu tanpa pasti namun percaya.. kelak kita selalu bersisian.. Aku tak mau kehilangan.. jiwa dan kalbu ini sudah terlanjur kau punya.. by:belahanjiwa-jawabansemuagundah

Cinta rahasia

Kembali merasakan cinta rahasia. Sepertinya cinta untukku hanya sebatas cinta rahasia. Di saat rahasia, aku benar benar bisa mencintai dan rasa nya tak berlebihan kalau aku bilang, aku juga dicintai. Luka masa lalu hilang sudah, jauh ,hilang. Tapi seperti kata yang selalu berulang, jatuh cinta sama dengan membuka kesempatan hati untuk dilukai,lagi. Ini sedikit mendekati luka. Yang terjadi sekarang, hatiku telah ditelanjangi. Maka kesempatan dilukai semakin membesar. Tapi aku rela, selama yang melukai hatiku adalah engkau sipemilik hati. Engkau yang aku cinta tanpa syarat. Aku rela kau bahagia dengannya. Jangan ragu dan takut ungkapkan bahagiamu itu. Tak usah khawatirkan aku. Aku memang cinta tanpa syarat yang dihadirkan Tuhan untuk mu. Berbahagialah sayang. Aku rela menjadi keset disaat kakimu kumuh. Kumuh oleh darah luka yang ditorehkan olehnya. Aku rela membasuh luka hatimu karena nya ,dengan cintaku. Karena aku tanpa syarat untukmu. Bahagialah dengan nya sayang. Aku selalu ada disekitarmu, di tiap hela nafasmu, ditiap denyut darah kejantungmu, menyaksikan dan menemanimu bahagia. Hatiku? Tak mengapa sayang. Sudah kubilang aku tanpa syarat. Hatiku yang serpihan ini telah kugadai, saat pertamakali,aku ucapkan cinta padamu. Bahagialah saja sayang. Atau amanlah saja. Tak ada keberanian diantara kita untuk mengakui cinta rahasia. Biar kutelan getir yang sudah aku pilih dari semula. Getir berhias bahagia, saat melihat kau bahagia.

Maafkan aku bila waktu itu tiba

hai sabtu,aku masih menunggu. pagi tak kunjung menyapa. langitpun bungkam dengan kelamnya, sambil melepas satu per satu butiran hujan. kita memang terpisah ruang dan waktu,tapi hati yang berdampingan adalah keniscayaan. seperti riak ombak dilautan,tak henti meski malam datang. sabtu, mengapa hujan mu tak seperti biasa? mengapa kini dinginmu menusuk hingga ke tulang? mengapa anginmu membekukan hati? tapi aku tak pernah habis akal. sudut hatiku masih menyimpan setitik bara, bara yang kujaga untuk menghangatkan,saat dingin mu tak seperti biasa. bara yg kian meredup namun tetap menghangatkan. tapi sabtu, bara ini meski pelan,membakar sudut hati. menyisakan luka. jadi sabtu, jangan salahkan jika suatu saat aku harus memilih, beku karena dinginmu atau terbakar karena bara ku. dua dua nya tak menyenangkan sabtu. maafkan aku bila waktu itu tiba

Sunday, 15 April 2012

Jalan menuju hati

Kau..
Bukan raja memang.
Bukan penguasa.
Bukan yang bergelimangan segala hal.
Pelan pelang kau kumpulkan serpihan itu, dengan sabar kau titi dan tata satu persatu.
Merekapun sepertinya tak mau lakukan itu
Tapi kau, berkeringat berairmata merajutnya untukku tanpa hiraukan detik waktu.



Bagiku kau mulia.
Pelan pelan kau tutup luka menganga, pelan pelan kau buka hati yang terpatri.
Tak sedikit kata terucap yang melukaimu, tapi kau seolah berlalu dan tetap membagi senyum termanis untuk ku.
Aku kini bukan aku dulu. Aku kini mencoba menimba positif dari negatifku dulu.
Kau pelan pelan bimbing tanganku untuk belajar menggenggam kepercayaan.
Kepercayaan yang telah lama tak lagi ku sentuh.
Kepercayaan, yang aku sendiri, sulit melafalkannya.
Kau memang belum merebut cinta yang terkubur ribuan kilo di lubuk hati atau dasa laut.
Tapi kau tau jalan menuju kesana.
Dan aku entah mengapa, sedikit rela memberikan arahnya.

Terimakasih untuk cintamu yang tak bersyarat

aku merajut kasih

Hai sayang,mata ini merindukan setiap desahan lembut nafasmu.
Nafas ketika kau terjaga diiringi cahaya mentari.
Sayang,aku juga merindukan bisikanmu. Bisakan saat mata terpejam, dan hati mendengarkan.



Duhai sayang, padamu aku temukan tentram, padamu juga aku temukan gulana.
Gulana membayangkan harus melepasmu.
Sayang, setiap langkah ku ingin bergandengan tangan denganmu.
Membelah dunia kita berdua,menantang angin dan ombak kita bersama.
Sayang, denganmu gentar seolah tak pernah ku kenal.
Sayang, denganmu mentari seolah tak pernah terbagi diantara dua sisi bumi.
Sayang, aku ingin terus begini saja, terlelap dalam pelukanmu.
Sayang, aku masih haus kasihmu,meski tenggelam dilautanmu.
Sayang, ini aku yang tak pernah terpuaskan karena cinta luar biasa yg tak terbendung.


Aku malaikat dan iblis, akulah tuan dan hamba

Duhai engkau.. Aku jatuh cinta pada setiap tulisanmu.
Aku menatap urut...
Aku membaca urut, satu per satu kata yang terangkai dalam untaian kalimat.
Tak satu makian yang terlontar darimu , meski hati kadang terluka, meski hati tak selamanya tersenyum.

Duhai engkau, padamu aku belajar menata rasa dan hati. Menata emosi dan akal. Menjadi yang rasional dari emosional.
Duhai engkau, kau memang bukan kekasih hati yang aku cinta menyeluruh, karena kita tidak dituliskan untuk bersama.
Aku pengagummu saja, aku mengagumi dari kejauhan saja.
Setiap kata yang kau goreskan adalah penyejuk jiwa, pelebur lara, menentramkan rasa.

Aku memujamu bagaikan malaikat pada Tuhannya, pun iblis pasa penciptanya.
Aku memujamu bagai pelayan pada tuannya.
Aku menginginkanmau bagai tuan menitah hambanya.

Aku bisa menjadi malaikat pun setan.
Aku bisa menjadi air pun api.
Aku menjadi apapun yang bertentangan di dunia ini, demi bisa memandangmu, tanpa mententuh seujung kukupun.
Aku adalah dahaga di tengah sahara, yang hanya menikmati fatamorgana. Itulah aku padamu. Tapi dahaga tak pernah bisa membunuh yang merasakannya bukan?
Dahaga hanya menyiksa, itu pula yang aku rasakan, saat hanya bisa mengagumimu.
Itupun akan kutebus,demi bisa menjadi pengagum mu

Angel and demon, master and servant, both i am for you.










Wednesday, 4 April 2012

Cinta dua hati, satu rasa

Dia memandangi wajah yang terpampang di kertas itu. Tertegun, menatap lama. Dalam, sambil sesekali menarik nafas panjang.
Dua menit, tiga menit, sesekali melihat ke belakang, kiri dan kanan. Was was, jika kekasihnya memperhatikan gerak geriknya.

Hampir setiap malam sebelum tidur, satu minggu terakhir kondisi ini terjadi. Sedikit dingin, tanpa kata.
Kemudian, seperti biasa, lampu dimatikan. Dan pasangan itupun terlelap.
Begitu seterusnya dari hari ke hari.
******
situasi yang sama juga terjadi di sudut kamar, di sudut kota yang sama.
Sepasang kekasih tidur saling rangkul. Naas mereka silih berganri menimpali. Mereka memang tidur di ranjang yang sama . Tpi dengan pikiran yg masing masing melayang jauh, dan mimpi yang berbeda.


Pagi menjelang. Di sudut kamar pertama, satu dari sepasang kekasih itu, berbicara di ujung telepon. " sayang, aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi. Ak tidak bisa hidup berpura pura mencintainya, terus menerus seperti ini.."

Suara hangat di ujung telepon itu, juga mengungkap kan hal yg sama. "aku juga sayang. Kami sepanjang malam, tidur berpelukkan, tapi hampa. Pikiran ku tak bisa lepas dari mu."

***
Aku ingin segera mengatakan pada nya, bahwa aku tak pernah mencintainya. Dan pun tau itu. Tapi aku ak tak tega harus melihat wajah cantik berurai air mata." lanjut suara di sudut kamar itu.

Sayang, aku juga. Akupun tak tahu kalimat apa yang harus aku sampaikan pada orang tuanya, kalau aku mengembalikannya sekarang. Dulu saat aku meminangnya, kau belum ada.






Tuesday, 27 December 2011

Januari, tanggal 1.

Cinta itu, seru diawal. Dimasa kamu mengejarnya, pasti terasa luar biasa.
Cinta itu, seumur jagung, rasanya bulan madu, indah setiap detik.
Cinta itu, 6 bulan di awal belum terasa bosan, karena semua manis terlihat.


Cinta itu.... Iya, yang aku tahu hanya sampai disitu.
Karena aku tak pernah membiarkan cintaku lebih dari 6 bulan.
Karena kata mereka, lebih dari itu, hanyalah basa basi dan saling memenuhi kewajiban.
Aku memilih tidak mau membuktikan kata mereka.
Jadi yang aku tau cinta itu hanya sampai Juni..
Okay, 2 jam lagi bulan Juli. Aku mau berburu cinta baru dulu.
**


Aku Juga Mencintaimu

Hujan rintik rintik saat ia menunggunya di loby kantor itu. Sambil sesekali menghisap dalam dalam rokok di sela jari, ia melempar senyuman paling manis, untuk sang kekasih, yang sedang bekerja dari box kaca, cuap cuap sendiri.


Kekasihnya penyiar kondang sebuah radio, ternama dikota mereka.
Tepat pukul sembilan malam, hujan semakin deras, sang kekasih selesai bertugas.

"Pak Djusman, saya pulang dulu ya. Ini uang untuk makan malam, kalau lapar", gadis cantik itu meninggalkan beberapa lembar untuk satpam kantor yang sudah tua.
Kemudian berlalu menuju sesosok di depan loby, dengan kemeja yang sudah basah kuyup.

Kedua nya menembus hujan deras, berpegangan tangan, hujan seolah tak pernah turun.
Pak Djusman tersenyum melihat polah kedua remaja itu.
**
Setiap kali ia mengatakan betapa besar cinta nya pada sang gadis, setiap kali itu juga bibir manis itu hanya memberikan senyum, tanpa kata.
**
Berulang kali potongan cerita itu muncul. Aku berusaha keras mengingat satu per satu perisitiwa indah itu. Tapi semakin keras aku berusaha, semakin sedikit yang ku ingat. Semakin besar rasa sesal terbersit.

**
Kini berganti, aku yang mengunjungi tempat itu. Tak kulihat pemuda itu menunggu kekasihnya seperti biasanya. Tak ada juga gadis manis itu cuap cuap dibalik box kaca.

Tapi hari itu loby kantor itu ramai sekali. Dan penuh karangan bunga.
Bunga yang biasa dikirim untuk ucapan belasungkawa.
Aku terkejut, ada namaku di karangan bunga itu.
Aku, mati? Aku sudah mati?
Bagaimana mungkin aku mati jika dalam 3 tahun ia mencintaiku,tapi tanpa ada satu ucapan bahwa aku mencintainya sama sekali. Rasa sesal luar biasa muncul.
**
Bagaimana aku mati? Aku bertanya pada malaikat.
**
Dihari terakhir ia mengatakan cinta padamu, adalah hari terakhirnya hidup.
**
Kamu tahu kapan jadwalnya harus ke dokter dan memeriksakan penyakitnya?
Sesaat setelah mengantarmu bekerja.
**
Kamu tahu kapan ia harus minum obatnya?
Sesaat setelah memastikan kau aman sampai dirumah.
**
Kamu tau obat apa yang membuatnya bertahan hidup?
Kebahagiaanmu dan saat kau tersenyum.
**
Tapi coba kau ingat ingat,kapan kau benar benar mengatakan kau mencintainya?
**
Belum, belum pernah kukatakan.
**
Masih belum ingat ,bagaimana kau mati?
**
Belum.
**
Aku ceritakan, atau kau ingat sendiri?
**
........
**
Baiklah. Dihari kematiannya, kau baru tau semua tentang dirinya dan penyakitnya, setelah 3 tahun.
Kau menyesal, tak sempat ungkapkan bahwa kau juga mencintainya.
Dihari itu juga,kau putuskan untuk mati. Dan menyampaikan cintamu padanya.
**
Aku terdiam. Dikejutkan tangan dingin menyentuh bahuku. Tangan yang aku kenal. Tangannya.
Akhirnya, "aku juga mencintaimu".
Apa ini yang disebut Cinta sampai mati?



dwi anggia and the world in the mirror: Kertas Merah Muda

dwi anggia and the world in the mirror: Kertas Merah Muda: Waktu,waktu hari ini berjalan sangat lambat. Begitu lambatnya,sehingga aku bisa menghabiskan satu buku setebal, setipis 155 halaman, hanya d...