Sunday, 3 August 2014

Cinta Maria dan Abdu


Sepuluh menit lebih, keduanya hanya diam saling menatap.  Orang orang yang datang hampir tak terlihat sama sekali oleh keduanya. Karena sepasang mata yang ada, saling beradu, bercumbu, membelai dan saling mengusap air mata.
 

" Nona, ini pesanan anda", seru pelayan restoran itu sambil meletakkan sebuah piring dihadapan Maria.
" Terimakasih", balas Maria. 





Itulah kata pertama dari 30 menit lalu, setelah mereka memesan makanan.

Dari sudut mata, Maria bisa menyaksikan pelayan tersebut bergerak menjauh.  Dua bola matanya yang indah, masih beradu pandang dengan mata indah lain. Mata yang biasanya ia tatap dengan penuh rasa percaya, tanpa ketakutan, penuh harapan sekaligus gundah. Mata yang selalu menatapnya dengan penuh cinta, kemesraan dan tanpa batas. 

" Abdu, sepertinya kita tidak punya pilihan lain". Kalimat Maria mengejutkan si pemilik mata indah itu.
***
Cinta yang sedari awal dimiliki sepasang insan ini memang bukan cinta mudah. Sedari awal keduanya menyadari, betapa besar dan tebal tembok yang ada dihadapan mereka. Tapi kepercayaan akan kekuatan cintalah yang membuat mereka bertahan, yakin dan menikmati bahagia. Namun kemudian berujung nestapa.

Nestapa?. Ya, nestapa. Entah jika ada kata lain yang bisa menggambarkan betapa hancurnya perasaan kedua mahkluk ini. 
***
Keduanya masih saling berpandangan disudut restoran yang sepi itu. Kali ini dua pasang mata indah itu penuh dengan air mata. Air mata yang mengalir tanpa suara, namun panas luar biasa terasa di tenggorokan, ribuan ton batu terasa menghantam di dada. Seketika jantung seolah berhenti memompa aliran darah ke sekujur tubuh. Tangan gadis itu seolah mati rasa. Ia tak bisa merasakan setiap ujung jarinya.

Entah apa yang dirasakan Abdu, kekasih hati yang ada dihadapannya itu. Ia tak pernah tahu. Namun yang kasat mata, ia melihat mata indah Abdu dialiri air, seolah tak bisa berhenti. Hidung mancung Abdu terlihat begitu merah, diantara wajah putihnya. Dari mata ia membaca, nestapa yang sama seperti yang ia rasakan, ada pada Abdu.
***
Tak satupun makanan yang terhidang disentuh kedua pasang kekasih itu. Terang saja. Bagaimana mungkin bisa menelan saat ia dihadapkan pada kehilangan separuh jiwa?. Belahan jiwa yang ia yakini akan membuatnya bahagia. Namun seketika ternyata itu hanyalah ilusi.  Yang nyata adalah dua insan yang terpisahkan, atas nama prinsip.
***
Siang itupun berakhir dengan sebuah keputusan berat yang harus diambil keduanya. Maria dan Abdu, memutuskan mengakhiri hubungan mereka, karena tak ada jalan yang bisa ditempuh, yang terbaik bagi mereka berdua. 
***
Tangis keduanya baru pecah, saat Abdu mengiri Maria ke dalam mobilnya. Sebuah ciuman perpisahan, seolah tak bisa berhenti untuk mengakhiri air mata mereka. Abdu menggenggam erat tangan Maria. Perlahan ia menciumi tangan yang selama ini selalu ada digenggamannya, dan segera akan pergi. Tatapan mata itu masih sama.
 
" Aku tidak bisa melepasmu", bisik Abdu sambi terisak. 

Maria hanya bisa membalas dengan air mata yang semakin deras.
Tak ada satu katapun yang bisa ia ucapkan. Ada beribu kata cinta yang tertahan dan harus ia tahan ditenggorokanya.
Ada perih yang luar biasa di dadanya, membayangkan kehilangan Abdu. Cintanya, tangisnya dan juga tawanya selama ini.
***
Tangan Abdu masih menempel erat di leher Maria. Keduanya hanya bisa saling tertunduk dan merasakan aliran nafas masing masing. Ini adalah ciuman terakhir yang akan menyisakan luka dalam baginya.
***
Keduanya sadar, masa ini akan datang, cepat atau lambat. Sedari awal keduanya tahu, bahwa hubungan mereka akan berakhir dengan air mata nestapa. Kisah cinta yang tak sesuai dengan cinta kebanyakan manusia. Kisah cinta yang tertulis salah dalam sejumlah norma. Kisah cinta yang adam dan hawa sekalipun tak akan rasakan. Cinta yang bagaimana? Cinta Maria dan Abdu, cinta yang bicara tanpa kata, cinta yang mendengar tanpa suara, cinta yang hanya dengan saling tatap maka terjawablah semua tanya.
***
Abdu menghilang dibalik jalanan. Maria memacu kendaraannya dengan tatapan mata kosong. Sejuta bayangan berkelebat dipikirannya. Awal mereka jumpa. Senyuman itu. Tatapan itu. Percakapan yang berlangsung berjam jam, tanpa sempat kehabisan kata. Bagaikan pertemuan dua orang kawan lama yang terpisah ruang waktu, hanya tawa dan canda. Tak satupun pertikaian yang terangkai dalam hubungan mereka. Setiap pertemuan yang berkakhir dengan harapan bertemu kembali, karena satu malam terlalu lama dan membuahkan jutaan rindu bagi keduanya di keesokan hari.
Bayangan ini yang terus berputar bagaikan kaset kusut di benak Maria. Saat itu ia tahu, bahwa ia akan terluka cukup lama. Saat itu ia tahu, bahwa seonggok hati telah berubah menjadi puing, dimana pecahannya terbawa separuh bersama Abdu, cintanya, hidupnya dan matinya.
***
Maria, kau akan selalu menempati hatiku. Aku tidak pernah mencintai wanita seperti aku mencintai mu, saat ini dan nanti. Kau adalah kenyataan terindah yang pernah aku alami sepanjang aku bernafas. Dan aku ingin kenyataan indah inilah yang menemaniku hingga tua nanti. Di rumah kita, dipinggir deburan ombak, kau dan aku menyaksikan cucu cucu kita bermain diiringi kicauan burung, dihamparan pasir putih. Di rumah dimana aku akan memijat kaki keriputmu dan kau akan mengusap rambut putihku.

Abdu-mu.

 

2 comments:

turiscantik.com said...

anggieeee ngeblog terus ya tulisan lo bagus soalnya heheheh

dwi anggia said...

makasiy mumutt.. belajar dari turiscantik.com :)